Akhlaq

Menanam Pohon, Ladang Pahala Yang Terlupakan

Dzulqarnain Muhammad Sunusi:
Penjelasan Ringkas Hadits-Hadits Pilihan [2]

*LADANG PAHALA YANG TERLUPAKAN*

Teks Hadits

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمِّ مُبَشِّرٍ الْأَنْصَارِيَّةِ فِي نَخْلٍ لَهَا، فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ غَرَسَ هَذَا النَّخْلَ؟ أَمُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ؟» فَقَالَتْ: بَلْ مُسْلِمٌ، فَقَالَ: «لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا، وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ، وَلَا دَابَّةٌ، وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً» رواه مسلم

Dari Jâbir bin Abdillah _radhiyallâhu anhu_, beliau bertutur, sesungguhnya Nabi _shallallâhu ’alaihi wa sallam_ memasuki sebuah kebun kurma milik Ummu Mubasysyir Al-Anshâriyyah, kemudian Nabi _shallallâhu ’alaihi wa sallam_ bertanya kepadanya,

يَا أُمَّ مَعْبَدٍ، مَنْ غَرَسَ هَذَا النَّخْلَ أَمُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ؟

“Wahai Ummu Ma’bad, siapa yang menanam pohon kurma ini, seorang muslim atau seorang kafir?”
(Ummu Mubasysyir) menjawab, “Bahkan seorang muslim.”
Maka beliau (shallallâhu ’alaihi wa sallam) bersabda,

لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا، وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ، وَلَا دَابَّةٌ، وَلَا شَيْءٌ، إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

*“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon, tidak pula memelihara sebuah tanaman, kemudian manusia, hewan, dan apapun makan dari (tanaman) itu, kecuali hal tersebut menjadi sedekah baginya.”*

[Diriwayatkan oleh Muslim]

Masih hadits Jabir dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim menanam sebuah tanaman, kecuali bahwa apa-apa yang *dimakan* dari (tanaman) itu adalah sedekah untuknya, apa-apa yang *dicuri* dari (tanaman) itu adalah sedekah baginya, apa-apa yang *dimakan* dari (tanaman) itu *oleh binatang buas* adalah sedekah baginya, apa-apa yang dimakan *oleh burung-burung* adalah sedekah baginya, dan tidak siapapun yang mengambil dari (tanaman) itu, kecuali *menjadi sedekah untuknya.*”

[Diriwayatkan oleh Muslim]

Makna Hadits
Hadits ini menjelaskan bahwa siapa saja yang menanam sebuah pohon atau tanaman apa saja, kemudian makhluk –baik manusia, hewan-hewan, burung-burung, binatang buas, atau apa saja- mengambil manfaat dari tanaman itu, hal tersebut akan terhitung sebagai sedekah dan pahala untuknya pada hari kiamat.
Namun, pahala ini *hanya berlaku untuk seorang muslim* yang menanam pohon, bukan untuk orang kafir.

*Faedah dan Pelajaran*

1. Keutamaan menanam pohon.

2. Keutamaan bercocok tanam.

3. Pohon dan tanaman serta manfaat yang keluar darinya *akan menjadi amalan jariyyah* hingga hari kiamat.

4. Pahala dan keutamaan hanya *khusus untuk kaum muslimin.*

5. *Keutamaan tauhid dan keislaman*, karena amalan tanpa tauhid dan keislaman tidaklah diterima.

6. Orang yang *menjadi sebab kebaikan* akan meraih pahala karena kebaikannya.

7. *Anjuran Islam dalam hal penghijauan* dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.

8. Mengandung dalil bagi ulama yang berpendapat bahwa *mata pencaharian terbaik adalah dalam bercocok tanam.*

9. Rahmat Allah berupa *banyaknya pintu-pintu kebaikan.*

10. Sebagian amalan yang mengandung maslahat dan manfaat bagi manusia menjadi pahala bagi pemiliknya, *walaupun tidak dia niatkan.*
*Jika dia meniatkan* sebagai kebaikan, tentunya akan menjadi kebaikan di atas kebaikan.

11. Rahmat kepada makhluk Allah.
Demikianlah riwayat yang semakna dibawakan oleh Imam Al-Bukhâriy dalam Bab “Rahmat kepada Manusia dan Hewan-Hewan”.

12. Mengandung keterangan akan bolehnya seseorang memiliki mata pencaharian dalam bentuk bercocok tanam maupun selainnya.

13. Berisi *anjuran bekerja dan beramal serta berpenghasilan dengan tangan sendiri,* bukan pengangguran dan tanpa manfaat.

14. Mengandung keterangan bahwa siapa saja yang menanam tanaman di tanah orang, tanaman tersebut adalah milik si penanam, sedang pemilik tanah berhak meminta upah sewa atas penanaman di atas tanahnya. Demikian yang disebutkan oleh Ibnu Baththal dan selainnya.

15. Berisi keterangan bahwa seorang manusia *kadang mendapat pahala dari hartanya yang dicuri atau hilang tanpa sepengetahuannya.*

16. Hiburan dan kegembiraan terhadap harta yang berkurang, karena pahalanya kadang tidak terbatas.

[Syarh Al-Bukhâriy karya Ibnu Baththal 6/456, 9/220, Ath-Thaudhih Karya Ibnul Mulaqqin 28/315, Syarh Muslim oleh An-Nawawiy 10/213, Ikmâl Al-Mu’allim 5/214, Al-Mirqâh 4/1339 dan Syarh Riyâdhush Shâlihin oleh Ibnu ‘Utsaimin 2/195-196]

———————
🌐 Mari bergabung di channel Telegram Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi[truncated by WhatsApp]

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: