Manhaj

Maulid dan Bias Radikalisme dan Fundamentalisme Aswaja

Maulid dan Bias Radikalisme Aswaja.
Selama ini kalangan Aswaja selalu menilai mereka mereka yang berseberangan dengan mereka sebagai pihak yang radikal, tidak toleran dan merekalah yang moderat dan toleran. Bahkan cap teroris, fundamentalis, Wahhabi pun mereka lekatkan pada berbagai pihak yang tidak sejalan dan menyelisihi serta menyuarakan penyelisihan terhadap mereka dalam perkara perkara yang telah mengakar pada keyakinan mereka.
Hanya saja ketika melihat secara jernih perkara itu justru merekalah yang paling radikal, sebab kritikan yang diarahkan kepada mereka selalu dianggap sebagai bentuk permusuhan. Pokoknya apa yang telah mereka yakini sebagai sebuah kebenaran tidaklah bisa diotak Atik ataupun dikritik, meskipun terkadang mereka yang mengkritik itu justru berada di atas kebenaran dan hujjah yang nyata. Bahkan terkadang penolakan mereka tidaklah didasarkan pada dalil tapi pada perasaan semata dan kata kalimat yang keluar hanyalah “dasar Wahhabi” tanpa mau melihat esensi dari kritikan tersebut dan segera vonis sesat itu mereka lekatkan pada yang mengkritik mereka. Sementara di sisi lain merekalah yang paling getol menyuarakan toleransi dan harus saling menghargai perbedaan tapi ketika perbedaan itu menyentuh apa yang mereka yakini, justru merekalah yang pertama melanggar prinsip itu tapi tetap berdalih atas nama toleransi dan berkata ‘kalian harus menghargai pendapat kami’ sedang mereka sendiri tidaklah menghargai pihak yang berseberangan dengan mereka.
Memahami toleransi sebagai bentuk tidaklah boleh saling mengkritik justru akan mematikan salah satu sendi paling mendasar dari agama ini yakni ‘amar Ma’ruf nahi mungkar’. Ataukah kritikan tidaklah boleh pada perkara perkara yang sudah menjadi ijma’ di kalangan mereka sehingga menjadi sebuah dogma yang tidak boleh disentuh justru akan mematikan salah satu pondasi paling mendasar dalam agama ini yakni saling menasehati. Fundamentalisme yang keliru sebab dibangun di atas pokok dan pijakan yang salah, bangunan agama bukan dibangun Sunnah yang mendasar dan dipahami oleh para Sahabat tapi didirikan di atas penyesuaian adat istiadat setempat, sehingga kita melihat dalam sebuah acara pernikahan -misalnya, yang tuntunan dan aturannya sudah lengkap dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam – tiap daerah memiliki ritual yang berbeda -terkadang ritual itu kental dengan Bid’ah, takhayul dan khurafat bahkan kesyirikan.
Seakan apa yang diturunkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah cukup. Sehingga muncullah kemudian istilah dan nama ISLAM NUSANTARA yang mengesankan bahwa Islam yang ada harus dibentuk berdasarkan daerah masing masing. Agama lah yang harus mengikuti kepada Adat Istiadat bukan Adat dan Budaya yang harus mengikuti kepada tuntunan Agama.
Budaya kritik mesti senantiasa hidup dan dibangun di atas amanah ilmiah, maka hendaknya jika kritikan itu tidak benar maka dibantah dengan cara yang ilmiah, bukan dengan kata kata dan sikap yang justru mencederai toleransi itu sendiri. Kebenaran hendaknya selalu menjadi tujuan serial kaum Muslimin bukan sekedar pembenaran akan hal yang telah menjadi akar atas hegemoni sebuah kelompok.
Seperti apa yang disampaikan salah seorang Khathib Jum’at tempat penulis melakukan shalat Jum’at. Sang Khathib melontarkan premis premis perkataan yang jika diringkas menjadi seperti berikut :
– Banyak yang mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tapi banyak juga yang membencinya seperti,
– Mereka yang membenci Maulid dan tidak melakukan Barzanji.
– Mereka ini semisal dengan Abu Lahab
Sehingga kesimpulan yang ditarik adalah mereka yang tidak merayakan Maulid dan membaca Barzanji berarti membenci Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan mereka ini semisal dengan Abu Lahab. Sebuah perkara yang sangat mengerikan karena menyerupakan mereka yang tidak merayakan Maulid dan Barzanji semisal Abu Lahab. Ini adalah aqidah Takfir dan aqidah yang sangat berbahaya. Yang bahkan mereka yang tidak melakukan Maulid pun tidaklah sampai pada kesimpulan yang semisal ini.
Mereka yang tidak merayakan maulid tidaklah meragukan kecintaan para pelaku maulid itu kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam hanya saja mereka mewujudkan cinta itu dengan cara dan bentuk yang keliru. Sebab cinta adalah ibadah dan ibadah harus sesuai tuntunan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.
Bahkan realita yang terjadi adalah bahwa mereka yang merayakan Maulid ini banyak bahkan mungkin mayoritasnya mereka melalaikan shalat Berjama’ah bahkan shalat 5 waktu. Bahkan imam mesjid yang saya maksud, meskipun di sebut imam Rawatib tapi kedatangannya shalat berjamaah di mesjid dalam sepekan bisa dihitung jari meskipun rumahnya tidak sampai 100 meter dari mesjid.
Pun bahkan sang Khathib dalam sebuah kesempatan pernah saya lihat memberikan tausiyah di sebuah walimah pernikahan dan dia tetap melanjutkan pembicaraannya meskipun adzan Zhuhur telah berkumandang di Mesjid yang sama dengan yang saya bicarakan di atas. Bahkan sampai selesai pelaksanaan Shalat Zhuhur berjamaah di mesjid dia belum berhenti bicara. Allahul Musta’an.
Saya sebenarnya hendak berbicara dengan sang Khathib hanya saja dia pergi sebelum saya selesai melakukan shalat sunnat ba’diyah Jum’at. Saya hanya ingin menanyakan satu pertanyaan kepada sang Khathib yakni “saya tidak merayakan Maulid dan tidak melakukan Barzanji, apakah berarti saya tidak mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam…?”
Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: