Akhlaq, Kategori Tulisan

Hidup Mulia Dengan Sabar dan Syukur

Bismillah

*Beberapa faidah yang tercatat dalam ta’lim Ust. KHIDIR _hafizhahulloh_di masjid Muwahhidin Panciro*

_(pembahasan kitab KAIDAH BERSABAR )_

*MULIA DENGAN SYUKUR DAN SABAR*

*Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah _rahimahullah_*

_Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan untuk hamba-hambaNya yang mukmin kebaikan di setiap keadaan._ _Mereka selalu berada dalam kenikmatan dari Rabb mereka. Allah memberi mereka apa yang mereka senangi atau yang mereka benci dan Allah menjadikan segala ketentuan dan takdir yang telah ditetapkan untuk dan atas mereka sebagai lahan niaga yang mereka harapkan keuntungannya dan jalan-jalan yang dapat membawa mereka kepada Allah, sebagaimana yang telah shahih datangnya dari imam mereka dan orang yang mereka ikuti—yang pada hari kiamat nanti setiap umat akan dipanggil bersama imam masing-masing— shalawatullah wa salamuhu ‘alaihi [semoga shalawat Allah dan salamNya dilimpahkan kepada beliau] bahwa beliau bersabda,_

ﻋَﺠَﺒًﺎ ﻟِﺄَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺇِﻥَّ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ﻛُﻠَّﻪُ ﻋَﺠَﺐٌ ، ﻣَﺎ ﻳَﻘْﻀِﻲ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻗَﻀﺎﺀٍ ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ ، ﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺳَﺮَّﺍﺀُ ﺷَﻜَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ ، ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺿَﺮَّﺍﺀُ ﺻَﺒَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ

_“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya, semua perkaranya menakjubkan. Tidaklah Allah tetapkan untuknya satu ketetapan, kecuali itu baik untuknya. Jika diberi kebaikan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar dan itu baik pula baginya.”_
[HR. Muslim, nomor 2999]

[ Penjelasan ]
Hadist ini menjelaskan bahwa

*1. Musibah ada 2 yaitu*
# . Hal yang membahagiakan
# . Hal yang menyusahkan menyedihkan , atau sesuatu yang tidak di senangi

*2. Menjelaskan kagumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang beriman karena mereka memiliki kekuatan kesyukuran dan kesabaran*

*3. Menjelaskan bahwa Semua nikmat dan musibah yang di dapat akan menjadi kebaikan ketika mampu mewujudkan kesyukuran dan kesabaran*

*4. Menjelaskan keadaan manusia yang tidak akan lepas dari dua kondisi ini yaitu
Mendapatkan nikmat atau mendapatkan cobaan*
*Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah _rahimahullah_*

_Hadits di atas mencakup seluruh ketetapan Allah terhadap hambaNya yang mukmin dan itu kebaikan bagi hamba tersebut jika ia bersabar dengan apa yang ia tidak sukai dan bersyukur dengan apa yang ia sukai._
_*Bahkan,* yang seperti itu masuk ke dalam penamaan iman._
_Sebab iman itu, sebagaimana para salaf ( Abdullah ibnu mas’ud ) mengatakan,_
*“iman terdiri dari dua: setengahnya bersabar dan setengahnya [lagi] bersyukur”*
_seperti firman Allah ta’ala ,_

ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ ﻵﻳَﺎﺕٍ ﻟِّﻜُﻞِّ ﺻَﺒَّﺎﺭٍ ﺷَﻜُﻮﺭٍ

_“Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi setiap yang bersabar dan bersyukur.”_
(QS. Ibrahim: 5; QS. Luqman: 31; QS. Saba’: 91; QS. Asy Syura: 33)

_Jika seorang hamba memahami ( merenungi ) semua itu, ia akan melihat bahwa kumpulan agama semuanya akan kembali kepada sabar dan syukur._

[ Penjelasan ]
Dalam pendahuluan ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah _rahimahullah_ memberi ilmu bahwa bagi orang beriman bisa tetap menjadi yang terbaik ( yang termulia ) apakah dalam kondisi mendapat ni’mat atau mendapatkan cobaan*

Nanti baik ( mulia ) ketika mampu bersyukur atas ni’mat dan
Nanti baik ( mulia ) ketika mampu bersabar atas cobaan

Makanya untuk menjadi yang terbaik harus memiliki ilmu kesyukuran dan kesabaran

Ini berbeda keumuman manusia yaitu mereka berfikir nanti terbaik ( menjadi mulia ) jika menang atau memiliki harta ( berada dalam kebaikan ) sedangkan mereka tidak bisa menjadi yang terbaik ( menjadi hina , rendah) ketika berada dalam kesusahan
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman :

ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻹﻧْﺴَﺎﻥُ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎ ﺍﺑْﺘَﻼﻩُ ﺭَﺑُّﻪُ ﻓَﺄَﻛْﺮَﻣَﻪُ ﻭَﻧَﻌَّﻤَﻪُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺑِّﻲ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻦ( ١٥ ‏)

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎ ﺍﺑْﺘَﻼﻩُ ﻓَﻘَﺪَﺭَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺭِﺯْﻗَﻪُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺭَﺑِّﻲ ﺃَﻫَﺎﻧَﻦِ ‏( ١٦ ‏)

_15. Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”._
_16. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinakanku.”_
Padahal dalam ayat selanjutnya Allah Ta’ala berfirman

ﻛَﻼ ( ١٧ )

_17. Sekali-kali tidak!_
*Seorang mu’min seharusnya berfikir , memahami bahwa kondisi seorang mu’min apakah dalam kebaikan ( mendapatkan ni’mat , kebahagian ) atau mendapatkan kesusahan maka fahamilah bahwa semua adalah adalah bala’ ( cobaan , ujian ) dari Allah Ta’ala , dan apabila bala’ itu berupa ni’mat maka harus bersyukur dan jika bala’ itu berupa kesusahan maka harus bersabar*.

Inilah cara berfikir orang beriman yang menjadi terbaik ( termulia ) dalam semua kondisi dengan tidak pernah berprasangka jelek kepada Allah Ta’ala.

Tetapi Boleh jadi ketika seseorang mendapatkan ni’mat ( berada dalam kebaikan ) justru mereka menjadi hina , rendah dalam keadaan tersebut

_Wallahu ‘alam_
_silahkan di share_
_30 Des 2016_
🔻🔻🔻🔻
Sumber : *WhatsApp Group As-Sunnah Makassar*

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: