Muslimah/Keluarga, Uncategorized

Hak Suami Terhadap Istri (Dari Kitab Nashihah Lin Nisa)

Bismillah

*Beberapa faidah yang tercatat dalam DAURAH ILMIAH ISLAMIYAH*
*Bersama Al Ustadz Abu ‘Abdillah Sahl _hafizhahulloh_*

*HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI*
_(Dari Kitab Nashihati Lin Nisa – Karangan Ummu ‘Abdillah Bintu Asy-Syaikh Muqbil)_

*SESI  I*

“`Dan Diantara Hak Suami Terhadap Istri“`

*Hak ke-1. Istri Taat , Patuh Saat suami mengajak ke tempat tidur.*

Ini merupakan Kiasan ( kinaayah )
yaitu Tidak taatnya seorang istri saat di ajak oleh suaminya , hal ini akan membawa istri tsb kedalam kemarahan Allah Ta’ala , mendapatkan La’nat dari Malaikat , dan sholat yang dilakukannya akan berkurang pahalanya , kecuali jika istri tsb memiliki alasan ( udzur ) yang syar’i seperti dia lagi haid , sakit , atau lagi berkabung. maka ini tidak mengapa

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِ ﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍِﻣْﺮَﺃَﺗَﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻓِﺮَﺍﺷِﻪِ ﻓَﺄَﺑَﺖْ فبات ﻏَﻀْﺒَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻟَﻌَﻨَﺘْﻬَﺎ ﺍَﻟْﻤَﻶﺋِﻜَﺔُ ﺣَﺘﻰَّ ﺗُﺼْﺒِﺢَ

“Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh.” (HR. Bukhari: 11/14)

dalam Hadist ini lafadz fabaata  ( فبات ) artinya tidur di malam hari

Dalam Hadist ini di ambil ilmu bahwa istri yang  mendapatkan laknat hanya ketika suaminya marah , tetapi jika suaminya tidur ( pada malam hari ) dalam keadaan tidak marah maka istrinya tdk mendapat la’nat dari Allah Ta’ala.

dalam hadis yang di riwayatkan Imam Muslim Rahimahulloh tidak disebutkan lafadz fabaata  ( فبات ) sehingga artinya penolakan istri berlaku berlaku umum apakah pada malam hari atau pada siang hari.

Dari Abu Umamah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
_“Tiga orang yang sholatnya tidak melampaui telinga-telinga mereka, yaitu budak yang melarikan diri dari tuannya hingga kembali, *seorang istri yang bermalam sedangkan suaminya murka kepadanya*, dan imam yang di benci kaumnya._
(HR.Tirmidzi 3611) di shohihkan oleh Al-Albani dalam shohih wa dha’if sunan at-Tirmidzi.”

Istri yang akan mendapatkan sanksi ini , ketika Istri menolak  suami sedangkan suami memiliki alasan yang benar. tapi  jika suami tidak memiliki  alasan yang benar , maka tidak masuk dalam hadist tsb.

penolakan istri terhadap ajakan suaminya ini termasuk Dosa  yang sangat besar.

Imam ibnu Taimiyah pernah di tanya.
Ada seorang wanita muslimah yang senantiasa puasa Sunnah di siang hari dan shalat lail di malam hari , tetapi ketika di ajak oleh suaminya ke tempat tidur maka dia menolaknya, apa kah hal ini pantas…?

Maka Beliau rahimahulloh  menjawab
Tidak halal bagi istri tersebut untuk melakukan perbuatan ini menurut kesepakatan kaum muslimin dan bmwajib baginya memenuhi ajakan suaminya , adapun shalat laki dan puasa Sunnah itu hukumnya sunnah . bagaimana mungkin seorang mu’minat yang lebih mendahulukan yang sunnah daripada yang wajib.

Sedangkan  Bagi istri yang taat kepada suaminya , maka Allah Ta’ala memuji mereka dalam Firmannya

ﻓَﺎﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ﻗَﺎﻧِﺘَﺎﺕٌ ﺣَﺎﻓِﻈَﺎﺕٌ ﻟِﻠْﻐَﻴْﺐِ ﺑِﻤَﺎ ﺣَﻔِﻆَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ۚ

_wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)._
[ QS An Nisa 34 ]

*Hak ke-2 ; Jangan berpuasa kecuali dengan izin suami*

Berkata imam Bukhari , Dari  Abu Hurairah , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

ﻻَ ﺗَﺼُﻮﻡُ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﻭَﺑَﻌْﻠُﻬَﺎ ﺷَﺎﻫِﺪٌ ﺇِﻻَّ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِ ﻏَﻴْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ

_*“Tidak boleh seorang wanita berpuasa ( selain Ramadhan ) sedangkan suaminya sedang ada (tidak bepergian) kecuali dengan izin suaminya”*_

Dipahami dalam hadist ini jika suaminya safar ( tidak berada di rumah )  maka sang istri boleh berpuasa tanpa ijin suami.

Dan jika seandainya suami telah balik dari  safarnya dan mengajak istri nya, maka wajib bagi istri  untuk berbuka dan memenuhi ajakan suami karena kewajiban menaati suami lebih utama ( wajib ) daripada puasa Sunnah.

Sedangkan jika suami mengajak istri yang sedang  berpuasa wajib  seperti puasa Ramadhan , Puasa qadha ramadhan  maka maka wajib bagi istri untuk Menolaknya( melanjutkan puasanya )

jika istri berpuasa sunnah tanpa minta izin maka puasanya tetap sah akan tetapi dia berdosa.

*Hak ke-3 ; Tidak di perkenankan istri memasukkan seorangpun di dalam rumahnya tanpa seizin suaminya*

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

‏ﻟَﺎ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟِﻠْﻤَﺮﺃَﺓِ ﺃَﻥ ﺗَﺼُﻮﻡَ ﻭَﺯَﻭﺟُﻬَﺎ ﺷَﺎﻫِﺪٌ ﺇِﻻَّ ﺑِﺈِﺫﻧِﻪِ ، ﻭَﻟَﺎْ ﺗَﺄْﺫَﻥ ﻓِﻲ ﺑَﻴﺘِﻪِ ﺇِﻻّ ﺑِﺈِﺫﻧِﻪِ ‏ .

_“Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. *Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.”*_
(HR. Bukhari 4899 & Muslim 1026).

Boleh bagi sang istri untuk memasukkan  seseorang ke rumah , Jika istri yakin bahwa suaminya ridho ( akan memberi izin ) ketika ada orang atau kerabat yang datang berkunjung kerumah,
tetapi jika diatidak yakin maka wajib bagi istri untuk meminta izin dahulu kepada suaminya

*Hak Ke-4  ; sesorang  istri tidak boleh  keluar  rumah tanpa minta izin suami*

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
_*“Jangan kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah dari shalat di masjid-masjid-Nya.”*_
(Shahih, HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 442)

*Syarat  bolehnya istri keluar dari rumah  ;*

-. hendaknya keluarnya istri tidak membuat fitnah bagi dirinya dan baginorang lain

-. tidak boleh menggunakan pakaian dan perhiasan yamg mencolok

-. tidak boleh memakai wangi wangian

-. Keluarnya untuk keperluan yang mendesak

*Hak ke-5 ; istri tidak diperbolehkan mengeluarkan harta suami kecuali denga izin suaminya.*

Tapi ada kondisi dimana istri boleh mengambil harta suaminya tanpa seizin suaminya

ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻫِﻨْﺪٌ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓُ ﺃَﺑِﻲْ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥَ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ : ﺇِﻥَّ ﺃَﺑَﺎ ﺳُﻔْﻴَﺎﻥَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺷَﺤِﻴْﺢٌ ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻳُﻌْﻄِﻴْﻨِﻲْ ﻣَﺎ ﻳَﻜْﻔِﻴْﻨِﻲْ ﻭَﻭَﻟَﺪِِﻱْ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﺧَﺬْﺕُ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ , ﻗَﺎﻝَ : ﺧُﺬِﻱْ ﻣَﺎ ﻳَﻜْﻔِﻴْﻚِ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻙِ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻑِ

_“Dari ‘Aisyah berkata: Hindun, istri Abu Sofyan, berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir dan tidak memberi belanja yang cukup untukku dan untuk anak-anakku, kecuali jika saya ambil tanpa pengetahuannya”. Nabi Shallallahu ‘alaihi  wa sallam berkata : “Ambillah apa yang cukup untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang baik” (jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit)”_
( Riwayat Bukhori , dan Muslim no 1714)

Dalam Hadits ini di ambil hukum Bolehnya mengambil harta suami tanpa seizin suami ketika suami tidak memberikan nafkah yang tidak sepantasnya yaitu tidak mencukupi kebutuhan sehari2 , tapi  dengan catatan tidak berlebihan dalam mengambil , sesuai kebutuhan saja.

Dan Jika nafkah yang di berikan suami telah mencukupinya maka Tidak boleh bagi istri  mengambil harta suami tanpa seizin  suaminya walaupun tujuannya  baik  seperti untuk bersedekah.

*Hak ke-6 ; Sang istri hendaknya berhias  untuk suami ( sehingga muncul kekaguman suami ) dalam batasan yang dibolehkan syariat*

Kesalahan sebagian muslimah saat sekarang ketika mereka berhias hanya ketika keluar rumah , mereka berhias hanya untuk teman mereka , tapi mereka tidak berhias ketika di rumah di hadapan suaminya.

ﺳُﺌِﻞَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻱُّ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺧَﻴْﺮٌ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺴُﺮُّﻩُ ﺇِﺫَﺍ ﻧَﻈَﺮَ ﻭَﺗُﻄِﻴﻌُﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻣَﺮَ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺨَﺎﻟِﻔُﻪُ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﻓِﻲ ﻧَﻔْﺴِﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎﻟِﻪِ

_Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya; “Wanita yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: *“Jika dipandang (suami) ia menyenangkan* , jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara-perkara yang dibencinya, baik dalam diri maupu harta”_ (HR. Ahmad)

*Hak ke-7 ; Hendaknya Istri berhikmat melayani kebutuhan suaminya*

Tidak di ragukan lagi baiknya hubungan suami istri ketika seorang istri melayani kebutuhan suaminya

Allah Azza wa Jalla berfirman:

ۘ ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯٰ ۖ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ۚ

_Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya_
[al-Mâidah/5:2]

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
_“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”_
(Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu )

tolong menolong , bantuan di sini bersifat umum dalam semua kebaikan , dan termasuk di dalamnya bantuannya ( pelayanan , khidmat ) istri kepada suaminya.

Telah sepakat para ulama tentang disyariatkannya pelayanan ( khidmat ) seorang istri kepada suaminya ,
Akan tetapi ulama berselisih pendapat apakah khidmat  ini hukumnya wajib atau Dianjurkan.

Sebagian Ulama mengatakan hukumnya wajib ( berdosa bagi istri jika tidak berkhidmat kepada suaminya )
pendapat ini  syaikh Al Albani , syaikh ‘utsaimin , Syaikh Muqbil dan pendapat ini di sandarkan pada pendapat Ibnu Qayyim ,  dan juga di sandarkan pada Al Imam Ibnu Qudamah Rahimahulloh
*Dan ini pendapat yang benar dan lebih kuat. wallahu ‘alam*

Mereka Berdalil dengan kisah Fatimah Radhiallahu ‘anha.
_“Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”._
[ Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45 ]

jika sekiranya  khidmat ( pelayanan istri kepada suaminya ) itu Tidak wajib maka sungguh Rasulullah  akan menyuruh Ali bin Abu Thalib Radhiallahu ‘anhu untuk menyediakan Budak untuk  membantu Fatimah Radhiallahu ‘anha

*Hak Ke-8 ; Tidak halal bagi istri untuk menuntut cerai suaminya jika tidak ada alasan yang di benarkan oleh  syariat*

Inilah hikmah mengapa hak cerai berada ditangan suami , yaitu karena wanita adalah makhluk yang lemah , dan mereka akan bergampangan dalam menceraikan suaminya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari hadits Tsauban radhiallahu ‘anhu ,

ﺃَﻳُّﻤَﺎ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﺳَﺄَﻟَﺖْ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻃَﻼَﻗًﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﺑَﺄْﺱٍ ﻓَﺤَﺮَﺍﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺭَﺍﺋِﺤَﺔُ ﺍﻟَﺠﻨَّﺔِ .

_“Perempuan (istri) mana saja yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang diperkenankan, maka haram baginya mencium wangi surga.”_
(Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 2226, at-Tirmidzi no. 1187 )

Al imam Syaukani Rahimahulloh berkata dalam hadist ini ada dalil bahwa permintaan cerai dari istri ke suaminya tanpa alasan yang dibenarkan dalam syariat , maka ini hukumnya harom yang sangat di haromkan

*Hak Ke-9 ; jika suami meninggal , maka istri wajib menunggu masa iddah selama 4 bulan 10 hari.*

Masa iddah ini para wanita mu’minah dilarang untuk berhias , memakai wangi-wangian dan menerima lamaran.
dan wajib hukumnya menghabiskan masa Iddah tersebut.

“`Pembagian Masa Iddah“`

*Masa Iddah Bagi wanita yang ditinggal Meninggal suaminya.*

1. Untuk wanita yang masih haid maka masa iddahnya 4 bulan 10 hari

Allah Ta’ala berfirman

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺘَﻮَﻓَّﻮْﻥَ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻭَﻳَﺬَﺭُﻭﻥَ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻳَﺘَﺮَﺑَّﺼْﻦَ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻦَّ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَﻋَﺸْﺮًﺍ ۖ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐْﻦَ ﺃَﺟَﻠَﻬُﻦَّ ﻓَﻠَﺎ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠْﻦَ ﻓِﻲ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻦَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ

_Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat._ ( QS Al Baqarah, 234 )

Imam Ibnu Katsir berkata ;
Dan ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada para istri yang ditinggal mati suaminya untuk menunggu selama 4 bulan 10 hari ( selama masa Iddah ) .
Dan masa menunggu ini berlaku untuk Wanita yang telah di gauli  atau belum digauli oleh suaminya. dan ini ijma’ kesepakatan para ulama.
Dalilnya karena Umumnya penunjukan dalam Firman Allah Ta’ala Yaitu Allah Ta’ala tidak merinci permasalahannya tersebut.

2. Bagi Wanita yang sedang hamil maka masa iddahnya sampai dia melahirkan.

Allah Ta’ala berfirman

ﻭَﺃُﻭﻟَﺎﺕُ ﺍﻟْﺄَﺣْﻤَﺎﻝِ ﺃَﺟَﻠُﻬُﻦَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻀَﻌْﻦَ ﺣَﻤْﻠَﻬُﻦَّ

_Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya_
( QS At Thalaq , 4 )

*Masa Iddah Bagi wanita yang ditinggal cerai suaminya.*

1. Untuk wanita yang masih haid maka masa iddahnya selama 3x Haid

2. Bagi wanita yang monopause ( tidak haid lagi ) maka masa iddahnya 3 bulan

3. Bagi wanita yang sedang hamil maka masa iddahnya sampai dia melahirkan.

*Masa Iddah Bagi wanita yang ditinggal cerai suaminya dan belum digauli suaminya*

Tidak ada masa iddahnya.

Dalam menjalankan masa Iddah , wanita terbagi atas  beberapa kelompok

1. Wanita yang bersifat ekstrim ( ghuluw , berlebihan )

Wanita yang jika ada kerabatnya ( bukan suaminya )  meninggal maka dia meninggalkan perkara yang di bolehkan seperti memakai perhiasan , daun pacar ,
sedang jika yang meninggal adalah suaminya maka dia berkabung , masa Iddahnya sampai 1 tahun .

2. Wanita yang tidak peduli ( mengganggap remeh ) dengan masa Iddah
Jika meninggal suaminya maka dia tidak peduli dengan masa iddah, keluar dari rumah , berhias padahal belum habis masa iddahnya

3. wanita yang senantiasa menjalankan syariat dalam agama mereka yaitu mereka menunggu masa iddahnya dan menjauhkan dirinya dari perkara yang dilarang oleh Allah Ta’ala selama masa iddah

*Hak ke-10 ;  Istri jangan ( tidak halal ) membongkar rahasia , aib suaminya ; begitupun sebaliknya*

Bahkan yang wajib adalah menjaga rahasia suaminya

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
_”Tidaklah Allah menutupi (aib) seorang hamba di dunia, kecuali Allah juga kan menutupinya pada hari kiamat.”_
(HR Muslim )

Bagaimanapun cekcok yang terjadi dalam rumah tangga maka jangan  di sebar kepada orang lain, baik itu  kepada orangtuanya , atau keluarganya. jika tidak  maka hal itu akan lebih menambah rumit  permasalahan yang ada.

“`(…….BERSAMBUNG……)“`

_Wallahu A’lam_
_Tolong di koreksi jika ada kesalahan_
_Silahkan di share_
_______________________________

Sumber : *WAG As-Sunnah Makassar*
Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: