Manhaj, Uncategorized

Bersabar diatas kezhaliman atau kita lawan pemerintah ?

Bagi rekan-rekan yang menganggap negeri ini kafir, tidakkah anda bertanya kepada saudara seiman kita yang ada di berbagai negeri di Eropa dan Amerika, mereka berpegang dengan kitabullah dan Sunnah. Mengapa mereka tidak memberontak, revolusi ?

Maka anda pun akan menjawab bahwa yang demikian dikarenakan menghindari mudharat yang lebih besar, belum terpenuhinya syarat untuk memberontak kepada penguasa kafir, yaitu tidak memiliki kemampuan, dan mereka pun tidak mampu hijrah dst dari udzur yang anda berikan.

Maka demikian pula dinegeri ini, anggaplah negeri ini kafir sebagaimana keinginan anda, namun apakah revolusi dan kobaran jihad kepada para pemuda untuk memberontak yang diawali memprovokasi adalah sebuah solusi yang tegak diatas prioritas mashlahat dan menolak mudharat ?

Para ulama telah meletakkan kaidah penting, yaitu memprioritaskan mashlahat, diantaranya ialah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Si’di rahmatullah ‘alaihi menjelaskan kaidah ini, beliau berkata :

الدين مبني على المصالح
في جلبها و الدرء للقبائح
فإن تزاحم عدد المصالح
يقدم الأعلى من المصالح
و ضده تزاحم المفاسد
مرتكب الأدنى من المفاسد

“Agama ini dibangun diatas penggapaian mashlahat dan penolakan atas mafsadah
Jika beberapa mashlahat berbenturan, maka didahulukan yang paling besar mashlahatnya
Sebaliknya apabila beberapa mafsadah saling berbenturan, maka diambil yang paling ringan mafsadahnya.”

Kita tidak mengingkari beberapa kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan kitabullah dan Sunnah, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sebuah mafsadah ketika kita bertahan diatas hal tersebut. Namun tatkala hal tersebut direspon dengan provokasi yang berujung kepada revolusi dan pemberontakan, apakah anda sudah jujur pada diri sendiri bahwa hal tersebut demi menggapai mashalat yang lebih besar, sementara dengan dikobarkannya revolusi atau pemberontakan akan menimbulkan mafsadah yang jauh lebih besar berupa : tumpahnya darah, dicampakkannya kehormatan muslimah, terancamnya anak-anak, hilangnya harta, dakwah semakin sulit, penguasa semakin antipati terhadap Islam dan simbol-simbol Islam. Apakah anda sudah lupa bahwa ini sudah terjadi di banyak negeri. Sementara, mengambil mudharat yang paling ringan dari dua mudharat yang dihadapkan kepada kita adalah sebuah hal yang terpuji dalam syariat.

Para ulama kita telah menjelaskan, hidup dalam kezhaliman pemimpin yang jahat adalah kemudharatan, namun memprovokasi orang lain untuk membenci penguasa yang semua berujung kepada revolusi pemberontakan jelas lebih besar Mudharatnya. Jujurlah pada diri sendiri, jangankan melawan armada pasukan khusus terlatih dengan segala peralatan canggihnya baik dari kesatuan TNI AL, AU, Darat, atau Brimob, melawan kesatuan kecil semisal densus saja kalian tidak memiliki kemampuan.

Bersabarlah atas kezhaliman yang ada, karena didalam kesabaran tersebut terdapat ampunan atas segala dosa-dosa kita, para ulama sejak dahulu telah menjelaskan hal ini. Ibnu Abil ‘izz Al-Hanafi rahmatullah ‘alaihi menuturkan :

وأما لزوم طاعتهم وإن جاروا ، فلأنه يترتب على الخروج من طاعتهم من المفاسد أضعاف ما يحصل من جورهم

“Adapun kemestian untuk mentaati mereka (penguasa) walaupun mereka jahat, dikarenakan memberontak akan mengakibatkan dampak kerusakan yang berlipat-lipat lebih besar daripada kejahatan yang mereka lakukan.”

، بل في الصبر على جورهم تكفير السيئات ومضاعفة الأجور ، فإن الله تعالى ما سلطهم علينا إلا لفساد أعمالنا
“Bahkan dalam kesabaran menghadapi kejahatan mereka terdapat penghapusan dosa yang berlipat-lipat, karena tidaklah Allah Ta’ala membiarkan mereka menguasai kita melainkan disebabkan amalan-amalan kita yang buruk.”

والجزاء من جنس العمل ، فعلينا الاجتهاد في الاستغفار والتوبة وإصلاح العمل

“Sedangkan suatu ganjaran sesuai dengan bentuk perbuatannya, maka kita wajib bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat serta memperbaiki amalan-amalan kita.”

. قال تعالى : وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفو عن كثير [ الشورى : 30 ]

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan tidaklah suatu musibah menimpa kalian melainkan disebabkan oleh tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan mayoritas dari kesalahan kalian.”
[QS. Asy-Syuaraa’ : 30]

. وقال تعالى : أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم

Allah Ta’ala juga berfirman :

“Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah, padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh kalian. Kalian berkata : dari mana datangnya musibah ini ? Katakanlah itu kesalahan dari diri kalian sendiri.” [QS. Ali Imran : 165]

وقال تعالى : ما أصابك من حسنة فمن الله وما أصابك من سيئة فمن نفسك [ النساء : 79 ]

“Kebaikan apapun yang engkau dapatkan, maka itu adalah dari Allah. Dan keburukan apapun yang menimpamu, maka itu adalah dari kesalahan dirimu sendiri.” [QS. An-Nisa : 79]

. وقال تعالى : وكذلك نولي بعض الظالمين بعضا بما كانوا يكسبون [ الأنعام : 129 ]

“Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” [QS. Al-An’am : 129]

Kemudian beliau melanjutkan :

فإذا أراد الرعية أن يتخلصوا من ظلم الأمير الظالم ، فليتركوا الظلم

“Maka apabila rakyat ingin melepaskan diri dari kezhaliman penguasa yang zhalim, maka hendaklah mereka (rakyat) juga meninggalkan kezhaliman (perbuatan dosa).”

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrrahman Al-Jibrin menjelaskan penuturan Ibnu Abul ‘izz diatas :

“Tidak diperkenankan memberontak kepada mereka, demikian pula tidak diperkenankan mencabut ketaatan kepada mereka (dalam perkara yang ma’ruf), karena pemberontakan hanya akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar berupa : tertumpah nya darah, terpecahnya kalimat persatuan, banyaknya bahaya dan kemudharatan yang menimpa kaum muslimin, penindasan terhadap orang-orang shalih dan melemahkan kekuatan mereka, mereka tercega h dari kebaikan dan beramal shalih berupa Amar Makruf nahi munkar. Maka mereka akan tertimpa kerusakan yang jauh lebih besar ketimbang mereka bertahan diatas kesabaran atas kejahatan para pemimpin yang jahat. Bahkan mereka wajib bersabar atas kejahatan tersebut, karena yang demikian terdapat penghapusan dosa bagi para rakyat dan pahala yang berlipat-lipat….”
[Ar-Riyadhun Nadhiyyah ‘ala Syarhi Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah juz 4 hal. 33-34]

Oleh karena itulah ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu mengatakan sebuah kalimat yang patut dihafal oleh setiap pemuda ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi pemimpin, beliau berkata :

إن كان خيرا رضينا، و إن كان شرا صبرنا

“Apabila ia menjalankan kebajikan kita meridhoi hal tersebut, akan tetapi jika ia malah berbuat keburukan maka kita bersabar.”
[Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf juz 11 hal. 100 cet. Darul Hadits]

Akhukum Al-Faqir

Abu Hanifah ibn Yasin

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: