Uncategorized

Syarat Syarat Laa Ilaha Illallaah

Syarat-syarat kalimat tauhid

وقال الحسن للفرزدق -وهو يدفن امرأته-: ما أعددت لهذا اليوم؟ قال: شهادة أن لا إله إلا الله منذ سبعين سنة. قال الحسن: نعم العُدة إن لـ “لا إله إلا الله” شروطا؛ فإياك وقذف المحصنة!

Al-Hasan rahmatullah ‘alaihi bertanya kepada Farazdaq (penyair yang masyhur) tatkala ia menguburkan jenazah istrinya, “Apa yang telah anda persiapkan untuk hari ini? (Kematian)”. Ia menjawab, “Syahadat Laa ilaaha illallah sejak tujuh puluh tahun silam”
Maka al-Hasan berkata, “Itu adalah sebaik-baik bekal. Namun Laa ilaaha illallah memiliki syarat-syarat yang mesti ditunaikan. Hati-hatilah anda dari menuduh zina wanita yang terhormat !

وقيل للحسن: إن ناسًا يَقُولُونَ: من قال: لا إله إلا الله دخل الجنة؟ فَقَالَ: من قال: لا إله إلا الله، فأدّى حقها وفرضها دخل الجنة.

Hasan Al-Bashri pernah ditanya, “Sesungguhnya ada orang-orang yang berkata : Barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” Maka beliau menjawab, “Barangsiapa mengucapkan, Laa ilaaha illallah kemudian menunaikan kewajibannya, maka ia akan masuk surga.”

وقال وهب بن منبه لمن سأله: أليس لا إله إلا الله مفتاح الجنة؟ قال: بلى، ولكن ليس مفتاح إلا وله أسنانُ؛ فإن جئت بمفتاح له أسنان فُتح لك، وإلا لم يُفتَح لك.

Wahb bin Munabbih rahmatullah ‘alaihi berkata kepada seseorang yang bertanya kepada beliau , “Bukankah kunci surga adalah Laa ilaaha illallah?” Beliau menjawab, “Ya memang. Namun tidak ada satu pun kunci melainkan memiliki dua gigi. Jika engkau membawa kunci yang memiliki dua gigi ini maka pintu surga akan dibukakan untukmu. Namun jika tidak, pintu itu tidak akan dibukakan untukmu.”

Gigi yang dimaksud adalah syarat-syarat Laa ilaaha illallah yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba. Apakah syarat-syaratnya ?

Asy-Syaikh Al-Hafizh Ahmad Hakami rahmatullah ‘alaihi menuturkan syarat-syarat Laa ilaha illallah dalam syairnya :

وبشروطٍ سبعة قد قُيِّدت
وفي نصوص الوحي حقاً وَرَدَت
فإنه لم ينتفـع قائلـها
بالنطق إلا حيث يستكمِلــها
العلـم واليقين والقبــول
ُ والانقيــاد فادرِ ما أقولُ
والصدق والإخلاص والمحبـة وفَّقـك الله لما أحبـــه

“Dan dengan tujuh syarat telah diikat kalimat syahadat
dan di dalam nash-nash wahyu telah datang secara benar. Sesungguhnya tidak bisa mengambil manfaat orang yang hanya mengucapkannya
Kecuali apabila dia menyempurnakannya.
Tujuh syarat itu adalah:
Al-Ilmu, Al-Yaqi n, Al-Qobul, Al-Inqiyad, maka ketahuilah apa yang aku ucapkan
As-Shidqu, Al-Ikhlas, dan Al-Mahabbah.
Semoga Allah memberi taufiq kepadamu kepada apa yang Dia cintai.”

Beliau mengurai secara ringkas syarat-syarat tersebut dalam kitab beliau : 200 soal jawab dalam permasalahan aqidah.

1. Al-Ilmu maknanya ialah menafikan da menetapkan.
2. Al-Yaqin maknanya ialah qalbu meyakini kandungan kalimat tauhid tersebut.
3. Al-Inqiyad, tunduk secara lahir dan batin kepada kandungan kalimat tauhid tersebut.
4. Al Qabul maknanya ialah menerima kandungan kalimat tauhid tersebut dan tidak menolaknya sedikitpun dari segala konsekuensinya
5. Al-Ikhlas, maknanya ialah mengikhlaskan kalimat tauhid tersebut.
6. Ash-Shidqu, membenarkan kalimat tauhid tersebut dari lubuk hati, tidak dalam pengucapan lisan semata.
7. Al-Mahabbah, mencintai kalimat tauhid tersebut dan juga setiap orang yang mengucapkannya, loyalitas dan permusuhan karena kalimat tauhid tersebut.

Pentahqiq kitabut Tauhid karya Al-Hafiz Ibnu Rajab, yakni Asy-Syaikh Shabri bin Salamah Syahin menambahkan syarat-syarat Laa ilaha illallah menjadi delapan syarat, yaitu kufur (mengingkari) segala yang diibadahi selain Allah sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

من قال لا إله إلا الله و كفر بما يعبد من دون الله، حرم ماله و دمه، و حسابه على الله

“Barang siapa yang mengucapkan La Ilaha Illallah dan mengingkari segala sembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan) nya ialah sesuai kehendak Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahmatullah ‘alaihi berkata, “Hadits ini adalah salah satu keterangan terbesar dari makna Laa ilaha illallah, karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menjadikan pengucapan kalimat tersebut sebagai sebuah perlindungan dari darah dan harta, bahkan seseorang tanpa mengetahui maknanya padahal ia mengucapkannya, tanpa mengakui kalimat tersebut, bahkan orang tersebut tidak menjalankan ketetapan untuk tidak menyeru kepada selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, maka harta dan darah orang tersebut tidak haram hingga ia mengingkari segala yang diibadahi selain Allah. Jika ia ragu untuk mengingkari segala sembahan selain Allah, maka tidaklah haram darah dan hartanya…”
—selesai kutipan—

Mengenai syarat kedelapan ini, para ulama lainnya tidak mengkategorikan sebagai salah syarat Laa ilaha illallah, karena mengingkari segala sembahan yang diibadahi selain Allah sudah termasuk dalam cakupan salah satu rukun Laa ilaha illallah, yaitu An-Nafyu (Meniadakan) segala sembahan selain Allah.

Allahu A’lam

Sumber bacaan :
*Kitabut Tauhid karya Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahmatullah ‘alaihi hal. 39-40, tahqiq Shabri bin Salamah Syahin terbitan Darul Qasim
*Catatan kaki At-Tamhid hal. 47 karya Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh terbitan Dar Al-Imam al-Bukhari

Ngupi sore, di taman Sakinah Tambun Selatan

Hamba Allah yang faqir
(Jandriadi Ibnu Yasin)

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: