Uncategorized

Pentingnya Talaqqi (Mengambil Ilmu Langsung Dari Guru) Dalam Menuntut Ilmu

Urgensi Talaqqi Dalam Thalibul Ilmi
=============================

Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah sumber ilmu yang kebenarannya absolute karena ilmu ini dinukil dari pihak-pihak yang terpercaya. Ilmu ini diriwayatkan dari Allah kepada Jibril kemudian kepada Nabi Muhammad. Lalu dari Nabi Muhammad diriwayatkan kepada sahabat-sahabatnya yang semuanya adil (jujur dan terpercaya).

Oleh karena ilmu ini suatu kebenaran yang absolute dan pondasinya adalah riwayat, maka ilmu ini hanya bisa diambil dengan cara periwayatan atau talaqqi langsung kepada sang guru. Sebagaimana dahulu Nabi Muhammad mengambil ilmu secara talaqqi kepada Jibril ‘alaihi salam. Karena ilmu ini tidak diberikan kepada sembarangan orang, ilmu ini hanya diberikan kepada yang ahli, amanah dan terpercaya.

Al-Auzâ’i berkata ,”Dahulu ilmu ini mulia. Para ahlinya mengambil ilmu tersebut dengan talaqqi diantara mereka. Ketika ilmu ini masuk ke dalam buku-buku, maka masuklah ke dalamnya orang yang bukan ahlinya”.

Mempelajari ilmu ini sangat dianjurkan untuk memperhatikan hafalan (sesuatu yang mulai ditinggalkan pada pendidikan kaum muslimin saat ini). Karena setiap ada perbedaaan pada lafazh, misalnya salah cetak ayat pada Al-Qur’an, tentu kita semua akan merujuk kepada hafalan yang ada di dada-dada para hafizh.

Oleh karena itu ketika Khalifah Utsman bin Affan membukukan Al-Qur’an ke dalam mushaf resmi, penulisan huruf hijaiyah masih belum ada titik apalagi harakat. Jadi pada saat itu kalau hanya membaca tulisan di mushaf, tanpa memiliki hapalan, tidak akan bisa membedakan huruf “ba”, “ta”, “tsa”, “nun” dan seterusnya.

Penulisan mushaf seperti itu selain ingin menunjukkan umdah dalam Al-Qur’an adalah hapalan, juga untuk mengakomodir semua jenis qiraah yang ada. Karena qiraah sejatinya adalah “recitation from the memory” bukan “reading the text”.

Begitu juga dalam matan hadits, ketika ada perselisihan pada lafazh hadits maka merujuknya kepada hafalan para hafizh. Sebagaimana guru Imam Al-Bukhari mewasiatkan kepada murid-muridnya ketika terjadi perselisihan lafazh hadits untuk merujuk kepada hapalan Imam Al-Bukhari.

Maka dari itu setiap penulisan Al-Qur’an ataupun hadits seorang murid harus menghadapkannya kepada sang guru.

Urwah bin Zubair berkata kepada Ibnu Hisyam, “Apakah engkau menulis (hadits yang engkau riwayatkan)?”, “Iya”, jawab Ibnu Hisyam. “Apakah engkau menghadapkannya (untuk dikoreksi) kepada gurumu?”, tanya Urwah. “Tidak”, jawabnya. “Kalau begitu engkau jangan menulis”.

Al-Akhfasy berkata, “Seseorang yang menulis kitab namun tidak menghadapkannya kepada gurunya, maka dia akan menjadi a’jamiy (buta huruf).

Karena dengan talaqqi sang murid belajar adab kepada gurunya, menulis, fokus dalam mendengar penjelasan, mencatat faidah-faidah dsb.

Selamat Bertalaqqi.

================

Ustadz Mohammad Sidiqi

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1979004635462756&id=100000597161049

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: