Uncategorized

Mengenal Sanad Dalam Periwayatan Qiro’ah Al-Qur’an !

(Al-Ustadz Al-Fadhil Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah)

Qiroah berasal dari kata qara’a – yaqra’u – qirâ’atan. Qiroat menurut istilah berarti salah satu cara dalam melafadzkan bacaan al-Quran yang dipakai oleh salah seorang imam qura’ yang berbeda dengan lainnya dalam hal melafadzkan bacaan al-Quran.

Sab’atu qurro (tujuh ahli qiroah), yakni imam dari aimmah yang ma’ruf yang qiroat (cara membaca al-Quran) disandarkan kepadanya. Siapa sajakah Imam-imam Qiroah Sab’ah?

1) Nafi’ bin Abdirrahman bin Abi Nu’aim al-Madani (imam penduduk Madinah). Beliau mengambil ilmu al-Quran dari 70 orang tabi’in, beliau mengajarkan al-Quran kepada manusia lebih dari 70 tahun. Beliau dikenal dengan berbagai keutamaan di kalangan ulama, hingga disebutkan dalam biografi beliau kalau beliau membaca al-Quran tercium bau harum dari mulutnya. Dia punya dua orang rawi yang masyhur meriwayatkan darinya, yakni Utsman bin Said al-Qibthy al-Mishriy yang digelari Warasy (banyak dibaca di wilayah Maghrib, Maroko, Al Jazair, Eropa) dan Isa bin Mina bin Wardan al-Madani yang digelari Qolun (banyak dibaca di Libya)

2) Abdullah bin Katsir bin Amr ad-Daari (imam penduduk Makkah). Beliau ahli dalam bahasa Arab dan fasih, hujjah dalam qiroah dan hadits. Imam Syafi’i memilih qiroatnya. Perawi-perawinya yang masyhur ialah Ahmad bin Muhammad bin Abdullah al-Makkiy yang digelari Bazzy dan Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad al Makhzumi yang digelari Qunbul.

3) Zabban Abu Amr bin ala’ al-Mazani (imam penduduk Bashrah). Beliau dikenal dengan kepintaran dien, qiroah, dan bahasa arab, amanah dan ketsiqahan. Beliau ada dua rawi yang masyhur yakni Abu Amr Hafsh bin Umar bin Abdul Aziz al-Baghdadi yang digelari ad-Duury dan Abu Syu’aib Shalih bin Ziyad yang digelari al-Suusi. Keduanya tidak mengambil langsung dari Abu Amr, akan tetapi melalui muridnya Abu Amr yang bernama Yahya bin Mubarak bin Mughirah al-Yazidi.

4) Abdullah bin ‘Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah al-Yahshabi (imam penduduk Syam). Beliau adalah imam masjid jami’ di Dimasqy, hujjah dalam qiroah, tsiqah dalam hadits. Perawi-perawinya yang masyhur ialah Hisyam bin Amr Abul Walid as-Sulami ad-Dimasyqi dan Abu Amr Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Dzakwan.

5) Ashim Abu Bakar ibnu Bahdalah bin Abi Nujud al-Asadi (imam penduduk Kufah). Qiroat Ashim ini banyak dibaca oleh kebanyakan kaum Muslimin di penjuru dunia sekarang ini. Perawi-perawinya yang masyhur ialah Abu Bakar Syu’bah bin Iyasy bin Salim al-Asadiy dan Abu Umar Hafs bin Sulaiman bin Maghirah.

6) Abu Umamah Hamzah bin Hubaib az-Ziyat (imam penduduk kufah). Dua perawinya antara lain yaitu Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam al-Bazzaz dan Abu Isa Khallad bin Khalid as-Sayrafi.

7) Abu Hasan Ali bin Hamzah al-Kisa’i (imam penduduk kufah). Dua perawinya yang masyhur adalah Abu Harits al-Laits bin Khalid al-Baghdady dan Abu Amr Hafsh bin Umar bin Abdul Aziz al-Baghdadi yang digelari ad-Duury.

Sanad Dalam Periwayatan Qiroah Terbagi Menjadi 3 Macam:

1. Qiroat yang mutawatir adalah qiroah sab’ah (tujuh qiroah) yang dinukil, tidak boleh membaca dengan cara bacaan selainnya dalam perkara hukum. Namun boleh membaca dengan cara bacaan selainnya dalam perkara penafsiran.

2. Qiroat yang ahad adalah qiroat yang derajatnya tidak sampai mutawatir akan tetapi sanadnya shahih, yakni qiroah tsalatsah (tiga qiroah). Yang dimaksud adalah qiroahnya:

8) Abu Muhammad Ya’kub bin Ishaq al-Hadhrami. Perawi-perawinya yang termasyhur ialah Ruwais Muhammad bin al-Mutawakkil dan Rauf bin Abdul Hakim.

9) Abu Ja’far Yazid bin Al-Qa’qa’ al-Makhzumi. Perawi-perawinya yang termasyhur ialah Isa Ibnu Wardan dan Sulaiman bin Muslim Ibnu Jammaz.
10) Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam. Perawi-perawinya yang termasyhur ialah Ishaq bin Ibrahim al-Warraq dan Abul Hasan Idris bin Karim al-Baghdadi al-Madda.

Dengan tambahan tiga qiroah ini yang mengikuti qiroatnya para sahabat yang sah sanadnya, menjadi pelengkap qiroah asyarah (sepuluh qiroah).

3. Qiroat yang syadz ialah qiroat yang tidak masyhur, yakni bacaan yang dibaca para tabi’in dan telah dtulis.
Tidak boleh dibaca (maksudnya tilawah) di dalam shalat maupun di luar shalat kecuali qiroah yang mutawatir saja.

Sanad Dalam Sisi Bisa Diterima Atau Tidaknya Qiroah Terbagi Menjadi 4 Macam:

1. Qiroat yang mutawatir, yakni seluruh jalur periwayatannya mutawatir dari bacaan yang disepakati tujuh ahli qiroah (qiroah sab’ah) apalagi oleh sepuluh ahli qiroah (qiroah asyarah)

2. Qiroat yang masyhur, yaitu qiroat yang shahih sanadnya tetapi tidak mencapai derajat mutawatir, dibaca oleh para imam ahli qiroah. Bacaannya sesuai dengan kaidah bahasa arab dan rasam Ustmani.

3. Qiroat yang ahad, yaitu qiroat yang shahih sanadnya tetapi menyelisihi rasam mushaf utsmani, menyelisihi kaidah bahasa Arab, atau tidak terkenal. Qiroat macam ini tidak boleh dibaca dalam shalat.

4. Qiroat yang syadz, yaitu qiroat yang tidak shahih sanadnya.
Syarat-Syarat Diterimanya Periwayatan Qiroah Al-Quran:

a) Keshahihan sanad (dalam meriwayatkan bacaan al-Quran) adalah sebuah syarat yang musti baginya. Seperti rawi-rawinya adalah seorang yang masyhur dan dhabith,

b) Harus mencocoki lafazh bahasa Arab,

c) Harus mencocoki khath rasam mushaf utsmani. Sebab Utsman radhiyallahu’anhu sudah mengumpulkan seluruh mushaf yang dipegang oleh para shahabat. Asalnya ketika di masa pemerintahan Abu Bakar radhiyallahu’anhu, Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu memberikan pertimbangan agar bacaan al-Quran ditulis dalam mushaf. Maka Abu Bakar radhiyallahu’anhu memerintahkan untuk menuliskannya dan beliau pegang. Ketika Abu Bakar radhiyallahu’anhu meninggal dunia, mushaf itu dipegang Hafshah bintu Umar. Setelah Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu meninggal dunia, mushaf itu diminta Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, kemudian memerintahkan beberapa shahabat yang diketuai oleh beberapa shahabat terkemuka seperti Zaid bin Tsabit radhiyallahu’anhu maka disusunlah mushaf itu. Lalu Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu menulis satu mushaf yang mengumpulkan seluruh mushaf yang dipegang oleh para shahabat. Apabila ada perselisihan qiroah beliau kembalikan kepada bahasa orang-orang Quraisy. Mushaf yang dipegang Utsman ini ditulis di berbagai nuskhah dan dibagikan ke seluruh penjuru negeri.

[Faidah catatan taklim dari Daurah Pengantar Ilmu Tafsir Al-Qur’an dari Kitab Manzhumah Az-Zamzamiy, bersama Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi hafizhahullah di Ma’had As-Sunnah Makassar beberapa waktu lalu tahun 2014]

Semoga Bermanfaat ! Baarkallahufiykum.

Abu Umar Andri Maadza

Sumber : https://m.facebook.com/groups/356795901428918?view=permalink&id=419911398450701

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: