Uncategorized

Benarkah Penerapan Kaidah “Memilih Mudharat Paling Ringan” Untuk Membolehkan Ikut Pemilu ?

🗳 *Penerapan Kaedah “Irtikab Akhaf Adh-Dhararain” Untuk Melegalkan Pemilu Dalam Tinjauan Syariat*

بسم الله الرحمن الرحيم

Ini adalah kaedah yang agung dalam syariat islam. Yaitu ketika dihadapkan antara dua mafsadat (keburukan/kerusakan) salah satunya ringan dari yang lain maka dilakukan keburukan ringan tersebut untuk menolak keburukan yang lebih besar dan memperoleh dibaliknya maslahat yang besar.

Ketahuilah saudaraku, bahwa menerapkan kaedah di atas harus terpenuhi syarat dan ketentuannya. Di antara syarat dan ketentuan itu adalah:

Pertama:
Maslahat yang diharapkan adalah sesuatu yang hakiki (kenyataan) bukan sekedar sangkaan lemah (wahmiyah). Maka tidak boleh kita melakukan mafsadah (keburukan/kerusakan) yang nyata untuk mendapatkan maslahat yang sekedar sangkaan lemah.

Oleh Karena itu, kalau sekiranya sistem demokrasi itu melayani islam dan syariatnya dengan pelayanan yang hakiki maka telah berhasil dan sukses di Mesir, Syam, Aljazair, Pakistan, Turki, dan negara (islam) mana saja di dunia ini sejak 60 tahun lalu. (tulisan ini tahun 2006, pen)

Kedua:
Maslahat yang diharapkan lebih besar dari mafsadah (kerusakan/keburukan) yang hendak dilakukan, dengan pemahaman para ulama yang kokoh keilmuannya, bukan pemahaman para pecinta partai Politik dan Pergerakan atau dengan pemahaman para pengamat partai politik.

Barangsiapa yang mengetahui bahwa kerusakan-kerusakan Demokrasi yang banyak itu di antaranya adalah:
-menghapus syariat islam,
-tidak butuh (dengan syariat yang dibawa) para Rasul karena halal dan haram diketahui melalui pendapat mayoritas, bukan apa yang dikabarkan para Rasul (berupa syariat),
-menghilangkan prinsip Wala & Barã karena agama,
-dan melemahkan akidah yang murni,
Demi untuk mememperoleh hati-hati manusia berupa hak suara mereka dan kursi parlemen.

Barangsiapa mengetahui kerusakan-kerusakan ini maka tidak mungkin baginya berkata:
“Sesungguhnya masuk pada perkara-perkara ini (pemilu dan ikut parlemen) adalah (untuk) melakukan keburukan yang paling ringan.”
Bahkan sebaliknya (yaitu tidak melakukannya) adalah yang benar.

Kalau seandainya kita terima bahwa (mafsadat dan maslahatnya) sama, maka menolak keburukan lebih didahulukan dari meraih maslahat.

Ketiga:
Tidak ada jalan lain lagi untuk meraih Maslahat ini kecuali dengan melakukan mafsadat tersebut.

Kalau kita berpendapat seperti ini (yaitu tidak ada jalan lain lagi) maka kita telah menghukumi metode Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak cocok untuk menegakkan hukum Allah di Bumi lagi..!!

Adapun Ahlul-Haq maka mereka tahu bahwa jalan Demokrasi dan banyaknya partai-partai tidaklah menambahkan kepada umat kecuali kelemahan. Karena inilah musuh-musuh islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan selain mereka sangat bersemangat (menghidupkan demokrasi) dan menegakkannya dengan melindungi berhala ini sepanjang waktu. Dan Allah Maha Meliputi mereka dengan Ilmu dan KekuatanNya.
📚(Lihat Tanwir Az-Zhulumat:249-250)

Berdasarkan hal ini, maka menfatwakan bolehnya ikut pemilu di setiap waktu secara mutlaq tanpa rincian adalah perkara yang berbahaya yang justru mendatangkan malapetaka di negeri kaum muslimin.

Saudaraku, jika engkau pahami ini maka engkau tidak akan menghasung saudara-saudaramu untuk ikut pemilu, kecuali pada kondisi yang mengharuskan untuk ikut sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat berdasarkan arahan para Ulama.

وبالله التوفيق.

✍🏻Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: