Uncategorized

Ru’yatullaah (Melihat Allah) di Sisi Asy’ariyyah

Ru’yatullah Versi Asy’ariyyah

Dahulu Az-Zamakhsyari, shahib Al-Kassyaaf salah satu pentolan mu’tazilah pernah melantunkan sebuah syair untuk mengolok-olok madzhab asy’ariyyah dalam menetapkan ru’yatullah, syairnya ialah :

لجماعة سموا هواهم سنة
وجماعة حمر لعمري مؤكفة
قد شبهوه يخلقه فتخوفوا
شنع الورى فتستروا بالبلكفة

“Sekelompok jama’ah yang menamakan hawa nafsu mereka dengan nama ahlus Sunnah wali jama’ah, mereka adalah keledai-keledai yang berpelana
Mereka telah menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, karena takut akan celaan orang lain, maka merekapun menutupinya dengan balkafah”.

Yang dimaksud Az-Zamakhsyari dengan balkafah ialah suatu teori asy’ariyyah yang menjelaskan bahwa ru’yatullah bila kaifin (tanpa cara) sebagaimana diungkapkan oleh Al-Laqqani dalam karya beliau Jauhar At-Tauhid yang menjelaskan aqidah asy-‘ariyyah :

و منه أن ينظر بالابصار
لكن بلا كيف ولا انحصار

“Diantara sifat Jaiz bagi Allah ialah Dia dapat dilihat dengan mata (disurga-pent)
Akan tetapi Dia dilihat dengan tanpa cara dan tanpa batasan”

Asy’ariyyah menetapkan ru’yatullah, akan tetapi mereka serupa dengan mu’tazilah tatkala mereka menafikan jihah (arah) bagi Allah, sebagaimana kaidah mu’tazilah dalam menafikan ru’yatullah :

المرئي يجب أن يكون في جهة من الرائي، و دامت الجهة مستحيلة – و هي شرط في الرؤية-, فالرؤية كذلك مستحيلة

“Sesuatu yang dilihat, mestilah ia berada pada suatu arah dari orang yang melihatnya. Maka selama arah bagi Allah adalah sesuatu yang mustahil -padahal arah adalah syarat dalam melihat-, maka demikianlah ru’yatullah (Melihat Allah) adalah sesuatu perkara yang mustahil.”

Disaat mereka selaras dengan mu’tazilah dalam menafikan arah bagi Allah, akan tetapi mereka justru menetapkan ru’yatullah, inilah yang membuat mereka ditertawakan kaum mu’tazilah. Oleh karena itulah kaum asy’ariyyah tidak pernah memiliki kesepakatan dalam menafsirkan ru’yatullah, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa penduduk surga kelak akan melihat Allah dari segala arah, karena mereka menafikan arah, maka ini akan melazimkan bahwa semua anggota tubuh penduduk surga akan berubah menjadi mata. Maka ini adalah penafsiran yang batil, dan diantara mereka (Al Ghazali, Fakhrurrazi dll) berpendapat bahwa ru’yatullah ialah dengan bashirah, bukan dengan mata. Maksudnya melihat Allah dengan qalbu dan ma’rifah, yang mereka ungkapkan dengan “ziyadatul inkisyaf wat tajalliy hatta ka-annaha ru’yatu ‘ain, ini juga keliru, karena semua mukmin didunia pun juga mengenal Allah dengan ma’rifah, terlebih lagi tidak terdapat keterangan dari Allah, Rasul-Nya, para sahabat, tabi’in, atau imam madzhab yang empat mengenai hal ini.

Adapun Ahlus Sunnah, mengambil aqidah mereka dari Al-Qur’an, As-Sunnah, keterangan dari para Sahabat, tabi’in, dengan pemahaman para ulama salaf.

Bersambung insyaallah…..

Sedikit faidah yang tersisa dari kajian Syarh al-Aqidah Al-Wasithiyyah di rumah belajar Al-Hasan bin ‘Ali Taman sakinah Tambun

=======

al Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: