Uncategorized

Peran Bahasa Arab Dalam Menepis Syubhat [Bantahan ringan atas filosofi akal-akalan Mu’tazilah] – Lanjutan Masalah Ru’yatullah

Pada goresan status sebelumnya, telah kita sebutkan secara ringkas filosofi asy’ariyyah dalam menetapkan ru’yatullah dan kegoncangan serta kontradiktifnya mereka dalam masalah ini sehingga mereka diolok-olok oleh kaum mu’tazilah. Bagaimana filosofi mu’tazilah sendiri dalam ru’yatullah ? Tentu mereka menolaknya, apa alasan mereka ? Bagaimana membantah filosofi akal-akalan mereka ?

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras rahmatullah ‘alaihi menjelaskan hal ini secara ringkas dalam kitab beliau Syarah al-Aqidah Al-Wasithiyyah. Kaum mu’tazilah menafikan ru’yatullah (melihat Allah di akhirat) dilandasi kaidah yang telah mereka tetapkan, yaitu Allah dibebaskan dari jihah (arah), mereka berkata :

المرئي يجب أن يكون في جهة من الرائي،
و دامت الجهة مستحيلة – و هي شرط في الرؤية-, فالرؤية كذلك مستحيلة

“Sesuatu yang dilihat, mestilah ia berada pada suatu arah dari orang yang melihatnya. Maka selama arah bagi Allah adalah sesuatu yang mustahil -padahal arah adalah syarat dalam melihat-, maka demikianlah ru’yatullah (Melihat Allah) adalah sesuatu perkara yang mustahil.”

Maka mereka berdalih dengan ayat Al-Quran,

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku, agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Rabb berfirman: “Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman.” (Al-A’raf : 143)

Sisi argumentatif yang mereka paparkan dari ayat ini untuk menafikan ru’yatullah ialah Allah menggunakan lafazh “Lan” (لن) yang berfungsi sebagai nafy ta’bid (peniadaan untuk selamanya). Maka tatkala Allah tidak dapat dilihat oleh Musa, demikian pula Allah selamanya tidak akan dilihat oleh siapapun selain beliau.

Pendapat mu’tazilah ini adalah sebuah kedustaan yang mengatasnamakan bahasa Arab, Ibnu Malik berkata di karya beliau Al-Kafiyah Asy-Syafiyah :

ومن رأى النفي بلن مؤبدا
فقوله اردد و خلافه* عضدا

“Dan barang siapa yang berpendapat bahwa huruf Lan menafikan untuk selamanya, maka tolaklah pendapatnya tersebut dan ambillah pendapat yang menyelisihinya.”
* Dalam berbagai cetakan lainnya dengan redaksi : فقوله اردد سواه عضدا

Terlebih lagi Allah Ta’ala menghikayatkan ucapan orang-orang kafir :

وَلَنْ يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا

“Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya…” (Al-Baqarah : 95)

Maka dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa orang-orang kafir yang menyadari buruknya amal dan kesalahan mereka, mereka tidak akan mengharapkan kematian selama-lamanya (menggunakan huruf لن / Lan), kemudian Allah mengabarkan kepada tentang angan-angan mereka untuk mati karena dahsyatnya siksaan di neraka,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

Mereka menyeru : “Wahai Malik (Malaikat penjaga Neraka), biarlah Tuhanmu memutuskan kematian kami saja.” (Az-Zukhruf : 77)

Maka makna ayat لن تراني (engkau tidak akan melihat Ku) ialah : engkau tidak akan sanggup melihatKu didunia karena lemahnya penglihatan didunia untuk melihat Allah, seandainya ru’yatullah terlarang, tentulah Allah akan menjawab إني لا أرى (Sesungguhnya Aku tidak dapat dilihat), atau dengan kalimat yang melarang melihat Nya dst.

Sisi ibrah dalam penyimpangan mu’tazilah pada bab ini salah satunya ialah bermuara dari kekeliruan mereka dalam memahami bahasa Arab, oleh karena itulah para ulama salaf menjelaskan bahwa sebab terjadinya kegagalan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berujung kepada kesesatan disebabkan karena bodohnya mereka dalam bahasa Arab.

Sedikit faidah yang tersisa dari kajian kitab Syarah al-Aqidah Al-Wasithiyyah @Rumah Belajar Al-Hasan bin ‘Ali perum Taman Sakinah Tambun

Bersambung insyaallah….

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: