Uncategorized

Sifat Istiwa (Allah di Atas Langit) antara Asy’ariyyah dan Ahlussunnah

Sifat Istiwa
[Ringkasan kajian kitab Syarah al-Aqidah Al-Wasithiyyah Lis Syaikh Muhammad Khalil Harras @Rumah Belajar Al-Hasan bin ‘Ali perum Taman Sakinah Tambun]

Ketetapan kaum Asyaa’irah dalam menetapkan Nama dan Sifat-sifat bagi Allah Ta’ala ialah harus membebaskan dan menyucikan Allah Ta’ala dari segala macam peneyerupaan sifat sifat yang ada pada makhluk. Hal ini diakui oleh mereka bahwa madzhab Muta-akhkhirin ialah mentalwil ayat-ayat dan hadits terdapat Sifat Sifat Allah, berbeda dengan mutaqaddimin yang mentafwidh (menurut Asyaa’irah).

Al-Imam Al-Baijuri menjelaskan sekaligus memantapkan apa yang telah dipaparkan oleh Asy-Syeikh Ibrahim Al-Laqqani di Al-Jauhar :

….و الحاصل : إنه إذا ورد في القرأن أو السنة مايشعر بإثبات الجهة أو الجسمية أو الصورة أو الجوارح اتفق أهل الحق و غيرهم ما عدا المجسمة و المشبهة على تأويل ذلك. لوجوب تنزيه تعالى عما دل عليه ما ذكر بحسب ظاهره…..

“Kesimpulannya : jika terdapat dalam Al-Qur’an atau Sunnah sesuatu yang memberi kesan adanya penetapan sifat Jihah (arah), atau jism, bentuk atau anggota anggota tubuh pada Dzat Allah, maka Ahlul haq (Asya’irah, -pent) dan selain mereka kecuali sekte Mujassimah dan Musyabbihah untuk mengharuskan mentakwil. Dikarenakan wajibnya mensucikan-Nya ta’ala dari apa yang telah ditunjukkan oleh yang telah disebutkan yang sesuai dengan zhahirnya….”
(Fathul Murid hal. 157 cet. Darus Salaam)

Oleh karena itulah berdasarkan “undang-undang” aqidah asy-‘ariyyah diatas, maka mau tidak mau ayat ayat yang sering muncul di Al-Qur’an semisal “tsummas tawa ‘alal ‘Arsy” dan yang semisalnya akan dibawa kepada makna yang lain, bukan istawa secara hakikat, tetapi maknanya adalah Istawla (menguasai).

Apa dalilnya ? Jawabannya tidak ada, hanya ucapan seorang penyair yang majhul, yang bahkan menyalahi ilmu bahasa Arab dan dalil-dalil naqli yang tsabit dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sya’ir tersebut ialah :

قد استوى بشر على العراق * من غير سيف أو دم مهراق

“Bisyr telah istawa (menguasai) Irak, tanpa pedang dan darah yang ditumpahkan”

Bisyr adalah adik laki-laki khalifah ‘Abdul Malik bin Marwan yang diutus menjadi gubenur di Irak. Maka dengan syair inilah Asyaa’iroh memalingkan makna kalimat istawa di Al-Qur’an menjadi Istawla. Inilah yang dikemukakan oleh Asy-Syaikh Ahmad Ash-Shawi di Hasyiah tafsir Jalalian dan seluruh ulama Asyaa’irah mutaakhirin lainnya. Luar biasa, sekian banyak dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah beserta keterangannya dari para ulama salaf terbantahkan oleh seorang penyair yang majhul dan cacat dalam Bahasa Arab.

Walhasil, sifat-sifat Allah itu terbatasi oleh mereka dengan 20 sifat saja. Al-Imam Ibnu Qayyim di Ash-Shawaaiq membantah pendalilan seperti ini dengan bantahan yang sangat bagus, bahkan dari 42 sisi kritikan. Diantaranya bahwa penyair ini majhul, tafsir ini tidak dikenal dikalangan orang orang Arab secara bahasa sebagaimana dikatakan oleh ulama pakar bahasa Ibnu Al ‘Arabi dll dengan kritikan yang sangat banyak. Silahkan baca Shawaiq dan Mukhtashar Al-‘Uluw bagi siapa saja yang ingin berluas luas dalam masalah ini.

Lantas, apakah makna istawa ‘alal ‘Arsy yang benar ?
Jawabannya ialah sebagaimana yang disebutkan oleh Al Imam Ibnu Qayyim di An-Nuniyyah :

فلهم عبارات عليها أربع. * قد حصلت للفارس الطعان و هي استقر و قد علا و كذلك ار. * تفع الذي ما فيه من نكران وكذلك قد صعد الذي هو رابع. * أبو أبيدة صاحب الشيباني يختار هذا القول في تفسيره. * أدرى من الجهمي بالقرآني

“Maka mereka memiliki empat ibarat atas makna tersebut (istawa ‘alal ‘arsy) Telah didapatkan dari para penunggang kuda yang pemberani (maksudnya para ulama salaf-pent) Yaitu ISTAQARRA, ‘ALAA Demikian juga IRTAFA’A yang tidak ada pengingkaran terhadapnya Demikian pula SHAIDA yaitu makna keempat Abu ‘Ubaidah shahibus Asy Syaibani Memilih pendapat makna ini dalam tafsirnya Beliau lebih berilmu tentang Al Qur’an dari pada kaum Jahmiyah”.

Maka empat makna istiwa ‘alal ‘arsy ialah :
1. Istaqarra
2. ‘Alaa
3. Irtafa’a
4. Sha’ida

Berikutnya, tidak semua kalimat Istawa bermakna Al-‘Uluw, Irtifa’, Istaqarra, dan Sha’ida sebagaimana keterangan diatas. Para Ulama telah menjelaskan bahwa kalimat istawa (استوى) jika di muta’addikan dengan perantara huruf Jarr/khafdh ‘ala (على) maka tidak mungkin dipahami kecuali maknanya adalah Al ‘Uluw (العلو) dan Al Irtifa’ (الارتفاع).

Allah Ta’ala berfirman tentang bahtera yang mengangkut Nabi Nuh ‘alaihis salam beserta kaumnya :

و استوت على الجودي

“Maka berlabuhlah bahtera tersebut DIATAS bukit Al-Juwdi.”
(QS. Hud : 44)

Kata kerja استو (istawa) pada ayat diatas dimuta’addikan dengan huruf على yang tidak mungkin dipahami bahwa bahtera menguasai bukit Al-Juwdi (?).
Jika kalimat istawa tidak di muta’addikan dengan perantara huruf Jarr,maka maknanya adalah sempurna atau telah dewasa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

ولما بلغ أشده و استوى آتيناه حكما و علما

“Dan setelah ia (Musa) cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan.”
(Al Qashash : 14)

Maka makna Istawa disini ialah كمل أو تم (sempurna), dan نضج (telah dewasa). Terkadang istawa bermakna sejajar atau rata. Sebagaimana yang dicontohkan oleh para ulama Nahwu ketika mereka mencontohkan Waw Ma’iyyah pada contoh kalimat :

استوى الماء و الخشبة

“Air dan kayu sejajar”.

Maka makna istawa pada kalimat diatas ialah sejajar.

Al-Imam Adz-Dzhabi di kitab beliau Al-‘Uluw mengingkari makna Istawa ‘alal ‘arsy dengan “istiqrar”, Asy-Syeikh Yasin al-Adni berkomentar di tahqiq beliau atas syarh Aqidah Wasitiyah Muhammad khalil harras :
“Saya tidak memahami apa yang membuat Al Imam Adz-Dzahabi mengingkari hal ini, padahal Al-Imam Ibnu Qayyim telah menjelaskan ditetapkannya makna “istiqrar”, terlebih lagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (di Majmu’ Al-Fatawa) Ibnu Abdil Barr (di At-Tamhid) dll juga berpendapat dengan hal sama.”

Bersambung insyaallah…..

====

Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=267006590419993&id=100013319622062

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: