Uncategorized

Lagi Tentang Bahasa Arab : Senjata Menepis Syubhat

[Dengan mempelajari Bahasa Arab, insyaallah terhindar dari syubhat dan dapat membantah syubhat]

Sejak dahulu Al-Imam Asy-Syafi’i Radhiyallahu ‘anhu telah menjelaskan bahwa seseorang yang tidak memiliki pengetahuan Bahasa Arab ialah orang yang paling rentan terjatuh dan tertimpa gelombang syubuhaat. Betul apabila dikatakan :
“Yang mahir bahasa Arab saja banyak yang rentan dan telah terjatuh kedalam syubuhaat dan fitnah”, thayyib, kita katakan : “Apalagi yang tidak memiliki pengetahuan tentang Bahasa Arab, tentu lebih rentan dan lebih banyak lagi yang terjatuh !!.”

Yang menjadi keanehan serta kekonyolan ialah, sudah tidak mau mempelajari bahasa Arab, malah terjun ke kancah fitnah dengan dalih mau turut andil membantah syubuhaat. Saudaraku, ulama kita telah menjelaskan bahwa hak membantah itu ialah hanya hak ahli ilmu, bukan seseorang yang tidak memiliki pengetahuan Bahasa Arab, jangankan membantah satu syubhat kecil, bahkan ia adalah orang yang paling rentan terjatuh kedalam syubuhaat (kembali ke petuah Al-Imam Asy-Syafi’i).

Qalbu ini lemah, syubhat menyambar-nyambar dengan segala tipu dayanya. Salah satu syubhat yang dilontarkan oleh para mukhallifin untuk membuat ragu seorang sunni dan menggoncangkan aqidahnya ialah dengan melemparkan berbagai kutipan-kutipan nusush, sunni yang lemah ma’rifatnya akan tersambar oleh syubhat sehingga mengikuti keinginan batil kaum mukhalifin tersebut yang mereka balut dengan dalil.

Diantara syubhat tersebut ialah kaum mukhalifin menuduh Ahlus Sunnah juga mentakwil nash-nash sifat Allah sebagaimana yang mereka lakukan dengan hadits yang shahih :

ألا إن الإيمان يمان و الحكمة يمانية و أجد نفس ربكم من قبل اليمن

“Ketahuilah sesungguhnya iman itu adalah Yaman, dan hikmah itu ialah Yaman, dan aku mendapati nafas (baca : pertolongan !) Rabb kalian dari arah negeri Yaman”.

Perhatikanlah lafazh :

نفس ربكم
Seorang sunni yang tidak memiliki pengetahuan bahasa Arab, maka ia akan salah menterjemahkan dan dan membuat kesalahan yang fatal dalam bab aqidah. Maka para mukhallifin akan terus mendesak seorang sunny untuk memahami hadits menurut kehendak mereka, yaitu nafas Allah dari negeri Yaman. Padahal sesuatu yang mustahil jika Allah disifati dengan nafas sebagaimana makhluk bernafas, maha suci Allah dari segala keserupaan dengan makhluk.

Kata النفس adalah ism mashdar dari kata kerja ُنٙفّٙسٙ يُنٙفِّس yang mashdarnya ialah تٙنْفِيْسًا. Perbedaan mashdar dan ism mashdar ialah bahwa mashdar yang selaras dengan fi’il dari sisi huruf dan tadribnya, sebagaimana dijelaskan oleh ahli bahasa Definisi Mashdar adalah : Isim yang menunjukkan kejadian (huduts) yang tidak terikat dengan zaman dan mencukupi atas huruf-huruf fi’ilnya atau melebihinya. sedangkan ism mashdar ialah Isim yang menunjukkan kejadian (huduts) yang tidak terikat oleh zaman dan mencukupi atas huruf-huruf fi’ilnya atau melebihinya.

Ism mashdar maknanya ialah mashdar, akan tetapi redaksi kalimatnya berbeda. Semisal seseorang berkata :
كلّمته تكليما
Atau dengan ucapan :
كلّمته كلاما
Adalah sebuah kalimat yang sama, tetapi redaksinya berbeda, karena كلام adalah ism mashdar dari kata kerja كلّم يكلّم yang mashdarnya ialah تكليما. Sebagaimana مغفرة adalah ism mashdar dari kata kerja غفر يغفر yang mashdarnya ialah غفرانا dst.

Inilah pendapat para ahli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan dalam buku-buku Bahasa Arab. Dalam kitab Al-Maqaayiis Al-Lughah disebutkan bahwa An Nafas (النفس) maknanya adalah :

كل شيء يفرج به عن مكروب. فيكون معنى الحديث : أن تنفيس الله عن المؤمنين يكون من أهل اليمن

“Segala sesuatu yang dapat menolong seseorang dari kesusahan/bencana”.

Sebagaimana dalam hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Al-Muslim :

من نٙفّٙسٙ عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نٙفّٙسٙ الله عنه كربة من كرب يوم القيامة

“Barang siapa yang melapangkan sebuah kesusahan didunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan untuknya dari kesusahan pada hari kiamat.”

Oleh karena itu makna hadits diatas ialah :

أن تنفيس الله تعالى عن المؤمنين يكون من أهل اليمن

“Pertolongan Allah kepada kaum mukminin berasal dari penduduk Yaman.”

Mengapa penduduk Yaman ? Syaikhul Islam menjelaskan :

و هؤلاء هم الذين قاتلوا أهل الردة، فتحوا الأمصار، فبهم نفس الرحمن عن المؤمنين الكربات

“Mereka adalah orang-orang yang memerangi orang-orang yang murtad, dan mereka menaklukkan daerah-daerah lainnya sehingga jatuh ke pangkuan Al-Islam. Melalui tangan merekalah Allah Yang Maha Rahman menolong kaum muslimin dari berbagai bencana.”

Sejarah juga membuktikan bahwa dahulu orang-orang yang menolong dan memberikan naungan tempat tinggal kalangan Muhajirin ialah orang-orang yang berasal dari Qahthan, sedangkan Qahthan berasal dari Yaman.

Maka Ahlus Sunnah tidak mentakwil hadits diatas sebagaimana tuduhan para mukhalifin dari kalangan muawwillah yang dengan tuduhan tersebut, tindakan mereka mentakwil nash-nash sifat menjadi sebuah tindakan yang wajar, karena Ahlussunah pun (menurut anggapan mereka) juga melakukannya takwil, atau tuduhan dari kalangan musyabbihah yang menuduh Ahlus Sunnah juga melakukan tasybih dengan menetapkan sifat nafas bagi Allah sehingga tindakan mereka yang mentasybih nash-nash sifat merupakan tindakan yang wajar, atau tuduhan mua’tthilah yang telah menafikan nash-nash sifat.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari segala fitnah dan keburukan, serta memberikan karunia kepada kita pengetahuan Bahasa Arab.

رب زدني علما

Sumber bacaan :
Syarah Al-Qawaid Al-Mustla

Taman Sakinah Tambun Selatan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: