Uncategorized

Ilmu Adalah Pemberian Terbesar Maka Janganlah Putus Asa Mencarinya

NASEHAT MENGHARUKAN !

(Fadhilatusy-Syaikh Prof. Dr. Adil bin Muhammad As-Subai’iy hafizhaullah)

Bismillah…

Di antara nasehat yang sangat indah diwasiatkan oleh Syaikh ‘Adil hafizhahullah kepada seluruh penggerak da’wah terkhusus kepada para asatidzah pada akhir Dauroh Asatidzah di Makassar:

” Hendaknya kalian bersemangat menyebarkan agama Alloh Ta’ala kepada manusia sesuai kemampuan kalian, walau hanya satu kalimat yang baik yang bisa kalian sampaikan kepada mereka,

dan berlemah lembutlah kalian kpd mereka,

dan jadilah kalian org-org yg jujur di tengah-tengah ummat manusia,

berhati-hatilah kalian dari perbuatan dusta,

dan juga berhati-hatilah dari sifat pelit/kikir,

serta sifat hasad kepada org lain,

dan berhati-hatilah dari sifat sombong terhadap manusia,

dan berhati-hatilah dari fitnah wanita,

jangan sampai engkau mendekatinya sehingga menyebabkan engkau terfitnah kepadanya ataukah menyebabkan dia terfitnah kepadamu, dan janganlah engkau senang dan menjadi terbiasa bercampur baur dengan wanita yg bukan mahrommu, walaupun dgn alasan bahwa engkau ingin mengajarkan kepadanya Al-Qur’an, sebagaimana ucapan seorang salaf:
“Janganlah engkau berduaan dgn wanita walaupun wanita tersebut adalah budak yg hitam pekat walaupun engkau mengatakan bhw engkau hendak mengajarkan Al-Qur’an kepadanya”.

Janganlah engkau berputus asa untuk menda’wahkan kebaikan kpd manusia walaupun sekedar tersenyum kepada mereka krn tersenyum merupakan bagian dari da’wah, maka bagaimana kiranya kalau engkau mampu melakukan kebaikan yg lebih dari sekedar senyuman ?

Bersemangatlah menuntut ilmu agama dan bersabar di dalam melakukan amalan tersebut KARENA SESUNGGUHNYA KALIAN ADALAH MUJAHID FI SABILILLAH KARENA ALLOH TA’ALA MENAMAI THOLABUL ‘ILMI SEBAGAI JIHAD , sebagaimana dalam firman-Nya ;

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةًۭ ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ.

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(QS. At-Taubah : 122),

di ayat ini Allah Ta’ala menggunakan lafadz ;
“نفرۃ” ,
dan lafadz ini tidaklah digunakan kecuali dlm rangka menunjukkan makna jihad,

dan ayat pertama yang diturunkan kepada Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam menjelaskan keutamaan ilmu agama dan anjuran utk bersemangat melakukannya adalah ;

فَلَا تُطِعِ ٱلْكَـٰفِرِينَ وَجَـٰهِدْهُم بِهِۦ جِهَادًۭا كَبِيرًۭا.

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar.”
(QS. Al-Furqon : 52),

maka yg dimaksudkan dgn jihad di ayat ini adalah jihad dgn ilmu agama…

Dan berhati-hatilah dari berputus asa utk mempelajari ilmu agama yg terkadang seseorang berkata di dlm hatinya ;

“Demi Allah aku sama sekali tdk bisa mendapatkan faedah dari mempelajari ilmu agama, buktinya aku telah banyak menghadiri majelis ilmu, mengikuti dauroh-dauroh ilmiyah akan tetapi aku merasa bhw aku tdk mendapatkan faedah pd diriku di dlm bermajelis ilmu” (karena merasa kurang kecerdasannya daripada yg lainnya)
padahal sesungguhnya engkau telah mendapatkan banyak faedah dari majelis-majelis ilmu dlm keadaan engkau tdk merasa telah mendapatkan ilmu tersebut krn memang tabiat manusia adalah setiap kali dia mempelajari ilmu agama maka semakin merasa bhw dirinya tdk ada apa-apanya dlm hal ilmu agama,

Dan berhati-hatilah dari tipu daya syaithon yg masuk pada dirimu sehingga muncul sebuah anggapan pada dirimu ;

“Sesungguhnya aku tidak memiliki kekuatan ingatan dan tidak memiliki kecerdasan di dlm menyerap ilmu agama sebagaimana org-org yg lain”
Sehingga menyebabkan engkau berputus asa dari mengejar majelis-majelis ilmu,

Ketahuilah bhw ketika engkau menjauh dari majelis-majelis ilmu agama maka sesungguhnya para syaithon sangatlah senang dgn hal tersebut krn satu org yang ‘alim lebih dibenci oleh syaithon daripada seribu org ahli ibadah,

Apakah yg akan engkau ingin lakukan jika engkau meninggalkan dari mempelajari dan mengajarkan ilmu agama ?
apakah engkau ingin berdagang ?
maka berdaganglah dalam keadaan engkau tetap menjadi org yg mengajarkan dan mempelajari ilmu agama,

ataukah engkau meninggalkan mempelajari dan mengajarkan ilmu agama krn engkau ingin menikah ?
maka menikahlah dua , tiga ataukah empat wanita dalam keadaan engkau tetap bersama dgn majelis ilmu,

Semua perkara tsb bisa engkau lakukan dalam keadaan tetap menjadi penuntut ilmu agama karena tidak ada pekerjaan yg menghalangi bagi para penuntut ilmu agama Alloh ta’ala …

Ketahuilah bahwa;

“TIDAK ADA PEMBERIAN YG LEBIH BERHARGA YG DIBERIKAN OLEH ALLOH TA’ALA DARIPADA PEMBERIAN ILMU AGAMA KEPADA HAMBANYA YG DIINGINKANNYA” …

kalaulah sekiranya engkau diberian bermilyar-milyar dolar dan bahkan sepenuh bumi harta maka hal ini tidaklah lebih berharga daripada engkau diberikan kemampuan oleh Alloh Ta’ala utk memahami makna surat Al-Fatihah saja dan diberikan kemudahan utk menyampaikannya kepada manusia yg engkau mengajarkannya di setiap masjid walaupun hanya kurang lebih selama 5 menit saja engkau berdiri di hadapan mereka ,

KISAH YG SANGAT INDAH ;
Ada satu kisah yg sangat membekas di dalam hati kami selama perjalanan kami menuntut ilmu agama,

kisahnya sbb ;
Pernah suatu ketika kami duduk bermajelis ilmu di salah satu tempat di Madinah pada tahun 1403 Hijriyah yakni kurang lebih 35 tahun yg lalu, saat itu bersama kami Syaikh Robi’ dan para penuntut ilmu yg lainnya sejumlah kurang lebih sebanyak 50 org ,

kami belajar bersama Syaikh Abbas Al-Hamud rohimahulloh,
Beliau adalah org yg dikenal sebagai pencinta sunnah Nabi, beliau org yg ‘alim dan bahkan beliau biasa menggantikan Syaikh Bin Baaz kalau sekiranya beliau berhalangan mengisi majelis ilmunya ,

Di pertengahan mejelis ada seorang yg berdiri sambil mengacungkan tangannya dalam keadaan gemetaran disebabkan krn usia org tsb telah sangat tua yg kurang lebih berusia 80-85 tahun.

Org tsb berkata ;
“Wahai Syaikh Abbas, saya tidak pernah lupa sampai saat ini sejak selama 50 tahun yg lalu engkau pernah datang ke kampung kami yg engkau ajarkan kpd kami sebagian dari Al-Qur’an dan engkau mengajarkan kpd kami hadits tentang sayyidul istighfar yg berbunyi ;
“Allohumma anta Robbi ..”

(org tersebut membacakan haditsnya dalam keadaan para penuntut ilmu yg ada di majelis tersebut menangis terharu dgn kejadian tsb),

Dalam keadaan Syaikh Abbas telah lupa dgn org tsb dan telah banyak yg beliau lupakan dari kegiatan-kegiatan da’wah yg berlalu dari kehidupan beliau selama 50 tahun yg lalu ,
Bukankah Alloh Ta’ala telah berfirman ;

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًۭا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓا۟ ۚ أَحْصَىٰهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ شَهِيدٌ.

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan oleh Alloh semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan, Alloh mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya, dan Alloh Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
(QS. Al-Mujadalah : 6),

Maka aku nasehatkan kpd kalian seluruhnya ;
“JANGANLAH KALIAN BERPUTUS ASA DARI RAHMAT ALLOH KEPADA KALIAN ,

AJARILAH MANUSIA SEKEMAMPUAN KALIAN ,
DA’WAHI MEREKA ,

BUKANKAH KALIAN MELIHAT BEGITU BANYAK MANUSIA YG MASIH TERJATUH PADA KESYIRIKAN , KEBID’AHAN , KESESATAN ???

MASIH BANYAK DI ANTARA MANUSIA YG BELUM MELAKSANAKAN SHOLAT ,
YG MASIH TERJATUH PADA DOSA-DOSA BESAR , DALAM KEADAAN KALIAN MENINGGALKAN MEREKA UNTUK KALIAN DA’WAHI ? MENGAPA KALIAN TIDAK MENDA’WAHINYA ?

APAKAH KALIAN TIDAK MENDA’WAHINYA KARENA KALIAN TELAH MENJADI ORG KAYA RAYA YG BANYAK KESIBUKAN DUNIANYA ?

ATAUKAH KARENA KESIBUKAN KALIAN MENGAJAR DI SEKOLAHAN-SEKOLAHAN SEHINGGA KALIAN MENINGGALKAN DA’WAH ?

INI BUKANLAH PERBUATAN YG BAIK BAGI SEORANG DA’I ,

LALU DIMANAKAH KASIH SAYANG PADA DIRI KALIAN TERHADAP SESAMA KAUM MUSLIMIN ?

KALAULAH ALLOH TELAH MEMULIAKAN KALIAN DGN NIKMAT ILMU AGAMA YG TELAH DIBERIKANNYA KPD KALIAN MAKA KENAPA JUSTRU KALIAN MENINGGALKAN MENDA’WAHI MANUSIA ?

MAKA SEHARUSNYALAH KALIAN BERJIHAD DGN MENDA’WAHKAN AGAMA ALLOH TA’ALA KPD MANUSIA ,

SEMUA KITA MERASAKAN KELELAHAN DI DALAM BERDA’WAH ,
AKAN TETAPI ALHAMDULILLAH KITA ADALAH ORG-ORG YG SEDANG BERDAGANG DGN ALLOH TA’ALA ,

MEMANG , SETIAP KITA MERASA TAKUT DGN PENYAKIT RIYA DAN SUM’AH , TETAPI BUKANLAH KARENA ALASAN TERSEBUT SEHINGGA KITA MENINGGALKAN DA’WAH ILALLOH ,
AKAN TETAPI HENDAKNYA KITA BERTAWAKKAL KEPADA ALLOH TA’ALA , KITA TDK MEMILIKI DAYA DAN KEKUATAN KECUALI DARI ALLOH TA’ALA …

Alhamdulillah ‘ala kulli hal …

Catatan:

1. Beliau menyampaikan nasehat yg terakhir ini dalam keadaan beliau menangis yg menyebabkan beliau berhenti sejenak berbicara , sampai-sampai yg hadir di Masjid As-Sunnah baji rupa seluruhnya/hampir seluruhnya menangis bahkan ada yg menangis tersedu-sedu karena terharu dgn kisah dan nasehat yg beliau sampaikan tsb ,

2. Dan beliau mengakhiri nasehatnya dlm keadaan mata beliau masih bercucuran air mata ,

beliau juga mengatakan bhw sesungguhnya ilmu saya sangatlah sedikit tetapi inilah kemampuan saya yg bisa saya persembahkan utk agama Alloh ta’ala ,
inilah keterbatasan saya yg kita bisa berbagi dengannya karena sesungguhnya kita hanyalah hamba Alloh ta’ala yg harus mengabdi jiwa dan raga kita berikan utk Alloh subhanahu wa ta’ala …

3. Pelajaran yg ingin beliau sampaikan dari kisah yg beliau sebutkan di atas adalah bhw hendaknya setiap da’i tdk menyepelekan berda’wah dan tdk menyepelekan sedikitnya ilmu yg dimilikinya sehingga membuatnya lemah semangat di dlm berda’wah ,
krn terkadang kita menganggap bhw ilmu yg kita sampaikan kpd masyarakat hanyalah perkara yg sepele yg mungkin sdh banyak diketahui olh para penuntut ilmu ,
padahal perkara yg sepele tsb justru menjadi perkara yg sangat berharga bagi sebagian manusia yg mungkin baru sj mrk mendengarkan hadits atau ayat yg kita sampaikan tsb sehingga mereka pun mengamalkan ilmu yg kita sampaikan tsb sepanjang umur mrk sejak pertama kali mendengarkan ilmu yg kita sampaikan tsb.

4. Boleh jadi kita tdk memiliki catatan pahala yg banyak dari sholat, puasa, zakat dan amalan-amalan yg sejenisnya akan tetapi pahala yg kita peroleh justru lebih banyak tercatat di sisi Alloh ta’ala dari hasil menda’wahkan agama Alloh ta’ala , terlebih lagi ketika ilmu agama yg kita sampaikan kpd manusia ternyata senantiasa diamalkan oleh mereka dan bahkan juga ditransfer ke org lain maka hal ini jelas menjadi amal jariyah bagi kita …

Semoga Alloh ta’ala senantiasa menjaga nikmat ilmu agama yg telah dianugerahkannya kpd kita dan diberikannya kita kemudahan dan kemauan utk menjaganya dg cara mengajarkan ilmu tsb kpd ummat manusia secara umum dan kpd kaum muslimin secara khusus krn ciri bentuk kesyurukan seorang hamba terhadap nikmat yg diberikan kepadanya yaitu dg menambah kuantitas dan kualitas ibadah kpd Alloh ta’ala …

Allohu a’lam bissowab …

Baarokallohu fikum.

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Ashadi Abu Qonitah Al Kandary -hafidzohullah)
(Diedit oleh: Al-Akh Abu Umar Andri Maadsa)

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: