Uncategorized

Mereka Yang Mengkritik Asy’ariyah Sebelum Ibnu Taimiyyah

Mereka mengatakan bahwa dahulu (sebelum masa Ibnu Taimiyah) aqidah kaum muslimin hanya asy’ariyyah & maturudiyah, selain dari keduanya adalah aqidah yang menyimpang. Mereka mengatakan bahwa sebelum masa Ibnu Taimiyah tidak ada ulama yang mu’tabar yang mengkritik asy’ariyyah atau matuduriyah, baru sejak kemunculan Ibnu Taimiyah lah kritikan muncul terhadap asy’ariyyah sehingga ummat pun terpecah.
Kita jawab : Keliru !

Mereka juga mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah juga mengkafirkan asy’ariyyah.
Kita jawab : dibuku Ibnu Taimiyah yang mana Ibnu Taimiyah mengkafirkan asy’ariyyah secara jelas dan gamblang ?

Justru yang terbuktikan dalam sejarah ialah para ulama sebelum masa Ibnu Taimiyah telah ramai mengkritik aqidah asy-‘ariyyah, bahkan diantaranya ada yang menganggap tidak halal sembelihan asy’ariyyah*

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang telah mengkritik aqidah asy’ariyyah dalam keadaan mereka hidup sebelum masa Ibnu Taimiyah rahmatullah ‘alaihi.

Diantaranya ialah :

1. Muhammad bin Khuwaiz Mindad Al-Maliki rahmatullah ‘alaihi (wafat thn 390 H), salah satu pemuka madzhab Maliki yang mengkritik aqidah asy’ariyyah sebagaimana dikutip oleh Al Imam Ibnu Abdil Barr rahmatullah ‘alaihi. Beliau menjelaskan perkataan Al-Imam Malik bin Anas rahmatullah ‘alaihi : “Tidak diterima persaksian Ahli Ahwa’ & Ahli Bid’ah.”

Beliau menjelaskan rincian perkataan Al-Imam Malik diatas:

أهل الأهواء عند مالكٍ وسائر أصحابنا هم أهل الكلام، فكل متكلم فهو من أهل الأهواء والبدع: أشعريا كان أو غير أشعري، ولا تقبل له شهادة في الإسلام، ويُهجر ويؤدَّب على بدعته، فإن تمادى عليها استُتيب منها

“Yang dimaksud Ahli Ahwa’ oleh Imam Malik dan seluruh ulama kami adalah Ahli Kalam. Maka semua Ahli Kalam, maka ia tergolong pengekor hawa nafsu dan ahli bid’ah, baik ia seorang PENGIKUT MADZHAB ASY’ARIYYAH atau yang lainnya. Persaksiannya dalam Islam tidak diterima selama-lamanya, bahkan ia diboikot dan di isolir. Jika ia masih bersikukuh diatas kesesatannya tersebut, maka harus diminta untuk bertaubat.”
(Jami’ Bayan Al Ilmi wa Fadhlihi jilid 2 hal. 96 terbitan Dki)

2. Ibnu Jauzi rahmatullah ‘alaihi (wafat thn 597 H), beliau berkata ketika mengkritik Abul Hasan Al-Asy’ari rahmatullah ‘alaihi :

ثم لم يختلف الناس في غير ذلك، إلى أن نشأ علي بن إسماعيل الأشعري. فقال مرة بقول المعتزلة، ثم عن له فادعى أن الكلام صفة قائمة بالنفس. فأوجبت دعواه هذه أن ما عندنا مخلوق و زادت فخبطت العقائد، فمازال أهل البدع يجوبون في تيارها إلى اليوم

“Kemudian kaum muslimin tidak berselisih pendapat terkait hal tersebut hingga muncullah ‘Ali bin Ismail (Abul Hasan) Al-Asy’ari, terkadang ia mengikuti pendapat mu’tazilah, dan terkadang ia mengemukakan bahwa Kalam adalah sifat yang melekat pada dzat. Maka konsekuensi klaim beliau ini bahwa apa yang ada disisi kita ialah mahkluk.
Pendapat beliau terus berubah hingga aqidah pun menjadi kacau, dan ahli bid’ah pun terus mempromosikan pendapat mereka hingga saat ini.”
(Shaidul Khathir hal. 320 terbitan Dar Ibn Khuzaimah)

Kritikan lainnya dari Ibnul Jauzi juga terdapat dalam kitab beliau lainnya Talbis Iblis yang dikatakan oleh Buya Yahya sebagai sufi (?), dan para ulama lainnya yang hidup sebelum masa Ibnu Taimiyah semisal Ibnu Hazm, Abdul Qadir Al-Jilani dll rahmatullah ‘alaihim yang mengkritik aqidah asy’ariyyah.

*Penuh pertimbangan bagi saya untuk menterjemahkan perkataan ulama ini, beliau hidup sebelum masa Ibnu Taimiyah.

Hamba Allah yang faqir

SBS Harapan Jaya Bekasi

====

al Ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: