Uncategorized

Makna Pembunuh Muslim Kekal Dalam Neraka

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa rekan berdiskusi ringan, kemudian bertanyalah salah seorang rekan tentang dosa membunuh mukmin dengan sengaja yang telah Allah sebuutkan di Al-Qur’an :

ومن يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها و غضب الله عليه و لعنه

“Barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasan untuknya ialah neraka jahannam, ia kekal didalamnya, dan Allah murka dan melaknatnya”
(An-Nisa : 93)

Sebagian rekan bingung ketika ditanya, “Apakah pembunuh mukmin kekal dineraka berdasarkan ayat ini ?” sebagian yang lain menyatakan, “Iya, kekal di neraka”

Padahal manhaj Ahlus sunnah menyatakan bahwa kejahatan selain kesyirikan tidak mengekalkan pelakunya di neraka berdasarkan firman Allah :

إن الله لا يغفر أن يشرك به و يغفر مادون ذلك لمن يشاء

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)

Inilah manhaj Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam memahami ayat diatas, bahwa dosa selain kesyirikan (Akbar) ialah tahtal masyi-atullah (dibawah kehendak Allah). Apakah Allah mengampuni atau mengadzabnya, apabila Allah mengadzabnya, maka itu bukankah adzab yang kekal selamanya di neraka.

Adapun ayat :

ومن يقتل مؤمنا متعمدا فجزاه جهنم خالدا فيها…..

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasan untuknya ialah jahanam dan ia kekal didalamnya………”

Maka Ahlussunah tidak memahami makna خالدا pada ayat diatas sebagai sebuah kekekalan sebagaimana pemahaman khawarij dan mu’tazilah. Makna khulud ayat diatas ialah sebagai peringatan keras atas dosa pembunuhan. Hal ini didukung oleh argumentasi para ahli bahasa Arab yang menyatakan bahwa khulud dapat juga bermakna المكث الطويل yaitu menempati neraka dalam jangka waktu yang lama. Para ahli nahwu pun banyak memberikan syawahid atas hal ini. Zuhair bin Sulma bersyair :

ألا لا أرى على الحوادث باقيا. ولاخالدا إلا الجبال الرواسيا

“Ketahuilah bahwa aku tidak berpendapat bahwa segala yang terjadi akan langgeng dan kekal, kecuali gunung-gunung yang kokoh”
(Tafsir Al-Qurthubi jilid 5 hal. 334)
Padahal gunung-gunung akan binasa.

Orang-orang Arab pun dahulu menyatakan :

لأخلدن فلانا في السجن

“Sungguh saya akan benar-benar mengekalkan si fulan di penjara”

Padahal penjara tidaklah kekal, ia akan binasa, demikian pula dengan si fulan. Oleh karena itulah Ibnu Abbas tetap memberikan peluang sang pemuda yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah semampunya serta tidak dikafirkan. Pendapat inilah yang diamalkan oleh para salaf terdahulu, bahwa ayat diatas adalah ancaman keras bagi pelaku pembunuh dan tidak menafikan taubat bagi sang pembunuh.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam adabul murfad sebuah atsar dari ‘Atha bin Yasar bahwa seorang pria pernah mendatangi Ibnu ‘Abbas kemudian ia berkata :

إني خطبت امرأة فأبت أن تنكحني

“Saya pernah meminang seorang wanita akan tetapi ia menolak menikah denganku”

وخطبها غيري فأحبت أن تنكحه ، فغرت عليها فقتلتها

“Kemudian ada orang lain yang meminangnya dan ia pun menerimanya, aku pun cemburu maka aku membunuhnya”

، فهل لي من توبة ؟ قال : أمك حية ؟ قال : لا

“Apakah aku masih bisa bertaubat ?”
Ibnu Abbas menjawab : “Apakah ibumu masih hidup ?”
Ia menjawab : “Tidak”

. قال : تب إلى الله عز وجل وتقرب إليه ما استطعت

“Ibnu Abbas menuturkan : Bertaubatlah kepada Allah, dan mendekatlah kepada-Nya semampumu”

. فذهبت فسألت ابن عباس : لم سألته عن حياة أمه ؟

“Maka aku (‘Atha) menghampiri dan bertanya kepada Ibnu Abbas : Mengapa anda bertanya kepadanya tentang ibunya ?”

فقال : لأني لا أعلم عملا أقرب إلى الله عز وجل من بر الوالدة

Beliau menjawab : “Karena saya tidak mengetahui sebuah amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah selain berbakti kepada ibu”

Ibnu ‘Uyainah juga menuturkan :
“Dahulu para ulama apabila ditanya tentang pembunuhan terhadap seorang mukmin, maka mereka menjawab : tidak ada taubat bagi sang pembunuh. Namun apabila ada seorang pembunuh yang datang bertanya, mereka menjawab : bertaubatlah !”
(diriwayatkan oleh Sai’id bin Mashur dalam As-Sunan jilid 4 no. 675)

Inilah madzhab Ibnu Abbas dan kebanyakan para ulama tentang tahdzir atas pembunuhan mukmin dengan sengaja, namun apabila datang pembunuh ingin bertaubat, mereka memerintahkannya untuk bertaubat.

Pembunuh harus menunaikan tiga hak, yaitu :
1. Hak Allah, hal ini gugur dengan taubat nasuha
2. Hak keluarga korban (ahli waris), yaitu dengan membayar diyat kepada mereka atau mendapatkan maaf
3. Hak sang korban yang ia bunuh, dan hal ini tidaklah gugur hingga ia berjumpa dengan sang pembunuhnya di akhirat kelak dan ia akan meletakkan kepalanya di tangannya dan ia menuturkan kepada Allah : “Ya Allah, tanyakanlah kepada orang ini (pembunuhnya) mengapa ia membunuhku ?”

Sumber Bacaan :

Al-Aqidah Al-Wasithiyyah syarah Muhammad Khalil Harras
Tafsir Al-Qurthubi dll

========

Ustadz Abu Hanifah ibnu Yasin

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: