Uncategorized

Nasehat Untuk Mereka Yang Sibuk Dengan Urusan Tahdzir Syaikh Fulan Terhadap Syaikh Fulan atau Ustadz Fulan Terhadap Ustadz Fulan (bag.1)

بسم الله الرحمن الرحيم

⚡Masalah Al-Jarh wat-Ta’dil adalah Masalah Ijtihadiyyah

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya masalah Al-Jarh wat-Ta’dil adalah masalah Ijtihadiyyah sebagaimana masalah-masalah lainnya dalam agama ini.

Berkata Al-Hafidz At-Tirmidzi rahimahullah:
ﻭﻗﺪ اﺧﺘﻠﻒ اﻷﺋﻤﺔ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺗﻀﻌﻴﻒ اﻟﺮﺟﺎﻝ ﻛﻤﺎ اﺧﺘﻠﻔﻮا ﻓﻲ ﺳﻮﻯ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻟﻌﻠﻢ.

Para Imam dari Ulama (Ahli Hadits) telah berselisih dalam melemahkan para perawi sebagaimana mereka berselisih pada selainnya dari cabang ilmu.
📚(Syarhu Ilalit-Tirmidzi:2/558)

Dan berkata Al-Hafidz Al-Mundziri rahimahullah:
ﻭﺇﺧﺘﻼﻑ ﻫﺆﻻء ﻛﺎﺧﺘﻼﻑ اﻟﻔﻘﻬﺎء، ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻳﻘﺘﻀﻴﻪ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ.

Perselisihan mereka (ulama Ahli Hadits) sebagaimana perselisihan para Fuqaha (ahli fiqih), semua ini adalah ranah ijtihad.
📒(Jawãb Al-Hafidz Al-Mundziri ‘An As’ilah Fil-Jarhi wat-Ta’dil:83)

Jika engkau telah ketahui hal ini, maka ketika terjadi perbedaan pendapat dalam masalah Al-Jarh wat-Ta’dil kadang kita sependapat dengan seorang Alim dan kadang tidak sependapat dengan Alim lainnya sebagaimana dalam masalah fiqhiyyah. Sehingga dalam masalah seperti ini seorang penuntut ilmu hendaklah melihat dalil dan hujjah masing-masing pihak yang berselisih bukan taklid kepada salah satu dari mereka.

Jika engkau telah melihat dalil dan hujjah mereka dan engkau mengambil kesimpulan darinya dengan menguatkan salah satu pendapat dan melemahkan pendapat lainya maka itu adalah hakmu dan jangan mengilzam orang lain untuk mengikuti pendapat yang engkau kuatkan, apalagi jika yang engkau ilzam adalah pemilik pendapat yang engkau lemahkan…!!!

Berkata Syaikhul-Islam rahimahullah:
ﻭﻣﺎ ﻣﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﺇﻻ ﻣﻦ ﻟﻪ ﺃﻗﻮاﻝ ﻭﺃﻓﻌﺎﻝ ﻻ ﻳﺘﺒﻊ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺬﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺃﻣﺎ اﻷﻗﻮاﻝ ﻭاﻷﻓﻌﺎﻝ اﻟﺘﻲ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻗﻄﻌﺎ ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻬﺎ ﻟﻠﻜﺘﺎﺏ ﻭاﻟﺴﻨﺔ ﺑﻞﻫﻲ ﻣﻦ ﻣﻮاﺭﺩ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ اﻟﺘﻲ ﺗﻨﺎﺯﻉ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻭاﻹﻳﻤﺎﻥ؛ ﻓﻬﺬﻩ اﻷﻣﻮﺭ ﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﻗﻄﻌﻴﺔ ﻋﻨﺪ ﺑﻌﺾ ﻣﻦ ﺑﻴﻦ اﻟﻠﻪ ﻟﻪ اﻟﺤﻖ ﻓﻴﻬﺎ؛ ﻟﻜﻨﻪ ﻻ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﻠﺰﻡ اﻟﻨﺎﺱ ﺑﻤﺎ ﺑﺎﻥ ﻟﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻦ ﻟﻬﻢ
Tidak ada seorang Imam pun kecuali dia memiliki ucapan atau perbuatan yang tidak (boleh) diikuti, sekalipun demikian dia tidak dicela atas hal itu. Adapun ucapan dan perbuatan yang tidak diketahui secara pasti penyelisihannya terhadap Al-Quran dan As-Sunnah bahkan ini merupakan ranah ijtihad yang mana para ulama berselisih di dalamnya, perkara-perkara seperti ini kadang diketahui secara pasti oleh sebagian orang yang Allah jelaskan padanya Al-haq. Akan tetapi, tidak boleh baginya untuk mengilzam (memaksa) orang-orang (untuk mengikuti) apa yang telah jelas padanya dan belum jelas kepada mereka.
📚(Majmu Al-Fatawa:10/383-384)

Perkara yang telah dimaklumi bahwa banyak dari masalah-masalah ilmiyyah dalam agama ini para ulama berbeda pendapat di dalamnya dengan perbedaan yang mu’tabar (teranggap). Dalam menanggapi hal ini hendaknya seorang muslim melapangkan dadanya dan menerima perbedaan pandangan. Dan tidak boleh baginya memaksakan pendapatnya kepada saudaranya, apalagi sampai mengeluarkannya dari lingkaran ahlussunnah.

Berkata Al-Imam Ahmad rahimahullah:
لا ينبغي للفقيه أن يحمل الناس على مذهبه، ولا يشدد عليهم

Tidak pantas bagi seorang Faqih menghasung orang-orang kepada madzhabnya dan (tidak pantas pula) dia bersikap keras/memaksa mereka.
📓(Al-Ãdãb Asy-Syar’iyyah:1/166)

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

” قال العلماء المصنفون في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر من أصحاب الشافعي وغيره: مثل هذه المسائل الاجتهادية لا تنكر باليد، وليس لأحد أن يلزم الناس باتباعه فيها ؛ ولكن يتكلم فيها بالحجج العلمية ، فمن تبين له صحة أحد القولين تبعه ، ومن قلد أهل القول الآخر فلا إنكار عليه

Para ulama yang menulis tentang masalah amar ma’ruf nahi munkar dari kalangan pengikut madzhab Syafi’i dan selainnya berkata:
Masalah-masalah ijtihadiyyah seperti ini tidaklah diingkari dengan tangan (maksudnya: secara keras), dan tidak boleh seorang pun mengilzam (memaksa) orang-orang untuk mengikutinya dalam masalah tersebut. Akan tetapi, (yang dituntut) adalah dia berbicara dengan hujjah ilmiyyah, barangsiapa yang telah jelas baginya salah satu pendapat maka dia ikuti dan barangsiapa yang mengikuti pendapat lainnya maka tidak boleh diingkari.
📚(Majmu Al-Fatawa:30/80)

Penjelasan Syaikhul-Islam di atas memberikan faedah:
1-dalam masalah ijtihadiyyah tidak boleh mengingkari orang lain secara keras,
2-cara mengingkari orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah dengan hujjah ilmiyyah.

Kita saksikan sebagaian penuntut ilmu yang dangkal yang mereka lakukan adalah sibuk membicarakan ustadz fulan atau saudaranya baik itu di majlisnya, atau dengan menulis status di berbagai jenis medsos tentang Ustadz fulan dan fulan. Ustadz fulan seperti ini, ustadz fulan telah melakukan ini dan itu, ya akhi ittaqillah (bertaqwalah engkau kepada Allah)..! Apa yang engkau lakukan adalah GHIBAH (in syaa Allah akan datang penjelasan bahwa apa yang mereka lakukan adalah ghibah).

Jika benar engkau seorang penuntut ilmu maka bantahlah dengan hujjah ilmiyyah, dan tentunya dengan adab-adab seorang penuntut ilmu…

والله الهادي إلى سبيل الرشاد

🗓16 Rajab 1439
✍🏻Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: