Uncategorized

Aqidah Salaf Adalah Tafwidh ? (1)

Aqidah Salaf Adalah Tafwidh ? (1)
————-

Syaikhul Asyaa’irah, Ibrahim Al-Laqqani menuturkan :

و كل نص أوهم التشبيها
أوله أو فوض و رم تنزيها

“Dan setiap nash yang dapat menimbulkan prasangka tasybih (keserupaan sifat Allah dengan sifat makhluk), maka takwilkanlah atau tafwidhkan, maksudkalah yang demikian itu untuk mensucikan Allah”

Al-Baijuri menjelaskan makna tafwidh yang dimaksud oleh Al-Laqqani :

و قوله (أو فوض) أي بعد التأويل الإجمالي الذي هو صرف اللفظ عن ظاهره…..فوض المراد من النصوص المتهم إليه تعالى

“Pernyataan Al-Laqqani (atau tafwidhkanlah/serahkanlah kaifiyah dan maknanya kepada Allah) setelah beliau memaparkan takwil ijmali, yaitu memalingkan lafazh (yang terdapat dalam nash sifat) dari zhahirnya. Menyerahkan makna yang dikehendaki dari redaksi ayat/hadits yang dapat menimbulkan penyerupan, diserahkan kepada Allah Ta’ala.” (Tuhfatul Murid hal. 156 tahqiq Ali Jum’ah)

Al-Laqqani sendiri juga menjelaskan makna tafwidh, beliau menjelaskan : “yaitu memalingkan lafazh yang terdapat dalam nash dari makna yang langsung dapat dipahami dari zhahirnya, kemudian diserahkan kepada Allah makna yang dikehendaki dengan kekhususannya.” (Hidayatul Murid)

Al-Baijuri dan tokoh pembesar madzhab asy’ariyyah mutaakhirin lainnya menjelaskan bahwa tafwidh adalah madzhabnya para salaf sebelum tahun 500 H, ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah yang hidup dibawah abad ketiga Hijriyah, atau yang hidup masa sahabat dan tabi’in.

Klaim dari Al-Baijuri ini keliru, karena para salaf tidaklah demikian. Adz-Dzahabi mengutip pernyataan Ibnu Abdul Barr rahmatullah ‘alaihima yang menegaskan madzhab salaf, beliau berkata :

أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز ، إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك

“Ahlussunnah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat di dalam Al-Quran dan Sunah serta memahaminya secara hakikat, bukan secara majaz (kiasan). Hanya saja mereka sedikitpun tidak menetapkan cara dan bentuknya bagaimana dari sifat-sifat tersebut.”
(Al-Uluw Lil Aliyyil Ghaffar, hal. 250)

Maka yang diserahkan kepada Allah ialah kaifiyah dari sifat tersebut, bukan Makna ! Adapun makna dan hakikat sifat tersebut, telah ditetapkan oleh para salaf.

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya (no. 4728) dari Yunus bin sulaim bin Jubair, maulanya Abu Hurairah, ia berkata : “Saya pernah mendengar abu Hurairah membecakan ayat :

إن الله كان سميعا بصيرا

(Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat).

Abu Hurairah berkata,

رأيته رسول الله صلى الله عليه وسلم يضع إبهامه على أذنه والتي تليها على عينه

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan ibu jarinya ke telinga, sementara jari setelahnya pada mata beliau.”

Abu Hurairah melanjutkan,

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأها و يضع إصبعيه

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat tersebut seraya meletakkan kedua jarinya tersebut.”

Ibnu Yunus berkata,

قال المقرئ يعني أن الله سميع بصير يعني أن لله سمعا و بصرا

“Al Muqri menyebutkan bahwa makna ayat: (Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat) adalah, bahwa Allah memiliki penglihatan dan pendengaran.”

Abu Dawud berkata,

هذا رد على الجهمية

“Ini adalah bantahan untuk orang-orang Jahmiyah (yang menolak sifat-sifat Allah).”

Demikian pula dengan hadits yang shahih, yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dan lainnya, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan jawaban sang budak wanita tatkala beliau bertanya kepadanya :

أين الله ؟

Dimanakah Allah ?

قالت في السماء

Wanita tersebut menjawab : Diatas langit.

Maka ditetapkan makna bagi sifat Allah berdasarkan riwayat diatas, karena jika diserahkan maknanya kepada Allah, tentulah jawaban sang budak akan disalahkan oleh Nabi shallallahu wa sallam.

Inilah yang ditetapkan para Aimmah salaf, menetapkan makna sifat-sifat Allah sesuai dengan yang layak bagi Allah, dan menyerahkan kaifiyah sifat tersebut kepadaNya. Salah seorang imam besar dari kalangan salaf, yakni Ibnu Khuzaimah rahmatullah ‘alaihi menuturkan :

و نحن و جميع علمائنا من أهل الحجاز و تهامة و اليمن و العراق و الشام و مصر مذهبنا أن نثبت لله ما أثبته لنفسه نقر بذلك يألسنتنا و نصدق ذلك بقلوبنا من غير أن نشبه وجه خالقنا يوجه أحد من المخلوقين

“Maka kami dan seluruh ulama kami dari Hijaz, Tihamah (Makkah), Yaman, Irak, Syam,Mesir Madzhab kami ialah kami menetapkan bagi Allah apa yang telah Dia tetapkan untuk dirinya, kami menetapkan dengan lisan-lisan kami, kami membenarkan hal tersebut dengan qalbu kami tanpa menyerupakan wajah sang pencipta kita dengan wajah salah seorang dari makhluk.”
(Kitabut Tauhid hal. 26)

Diantara ketetapan Ahlussunah yang ditetapkan ahlus sunnah terhadap nash-nash sifat ialah bahwa zhahawir nusush diketahui dari sisi makna, namun tidak diketahui dari sisi kaifiyah. Karena sesuatu hal yang mustahil, Allah memerintahkan kita untuk mentadabburi ayat-ayatnya, namun ternyata diserahkan maknanya kepada Allah. Allah berfirman,

ليدبرواآياته

“Agar mereka mentadabburi ayat-ayatNya”

Maka tadabbur tidak akan terealisasi melainkan pada perkara yang memungkinkan untuk sampai pada pemahamannya.

Allah menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur’an dalam bahasa Arab,

لعلكم تعقلون

“Agar kalian memahaminya”

Seandainya Al-Qur’an tidak memiliki makna, tentulah diturunkan Al-Qur’an apakah dalam bahasa Arab atau selainnya maka sama saja, tidak berfaidah.

Allah berfirman

لتبين للناس ما نزل إليهم

“Agar engkau (Nabi) menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (yaitu Al-Quran)”.

Maknanya adalah : agar nabi menjelaskan Al-Quran makna dan lafazhnya, bukan lafazhnya semata. Sebagaimana Allah berfirman

ثم إن علينا بيانه

“Kemudian atas tanggungan Kami lah penjelasan Al-Qur’an tersebut”

Maknanya sebagaimana disebutkan para ulama adalah : بيانه لفظا و معنى
“Kami menjelaskan Al-Qur’an tersebut baik lafazh dan maknanya”.
(Syarah Al-Qawaid Al-Mustla)

Adapun fatwa-fatwa para imam salaf yang menjelaskan tentang sikap ahlus sunnah dalam nash-nash sifat, yang menjelaskan untuk memberlakukan nash sifat tersebut sebagaimana datangnya, bukanlah seperti yang disangka kaum mufawwidhah dan Asyaa’irah. Demikian pula dengan kutipan yang dibawakan oleh Ibnu Qudamah dari sebagian Imam Salaf di Dzammu At-Ta’wil (hal. 22) bahwa mereka mengatakan tentang sifat Allah :
لا كيف ولا معنى

“Tiada kaifiyah dan makna”

Maka inipun keliru apabila dipahami seperti pemahaman mufawwidhah dan Asyaa’irah. Asy-Syaikh Hassan bin Ibrahim Ar-Ruday’an menjawab syubhat ini,

“Maksud dari nash-nash sifat dan yang terdapat dalam sifat tersebut berupa makna-makna yaitu mengimani bahwa sifat-sifat tersebut memiliki makna hakiki sebagaimana ditunjukkan oleh nash-nash, maka kita menetapkan makna-makna sifat tersebut tanpa menetapkan kaifiyah nya yang akalpun tidak akan mampu menjangkaunya.”

Maka ucapan para salaf yang mengatakan
لا كيف
Ini adalah bantahan terhadap musyabbihah yang mereka menetapkan bagi Allah kaifiyah sifat-sifat tersebut.

Bagaimana dengan ucapan sebagian salaf yang mengatakan لا معنى ?
Beliau menjawab :

أي لا معنى باطلا ولا معنى خارجا عن ظاهرها بأن يزاد في تفسيرها كما جاءت به المعطلة و المؤولة التي حرفت المعنى الظاهر إلى معان باطلة. فمن كيف فقد صار مجسما، ومن تأول المعنى فقد في المعنى ما يخرجه عن ظاهره الحقيقي إلى معنى باطل

“Maksudnya ialah tanpa makna yang batil dan juga tanpa makna yang keluar dari zhahir nash tersebut dengan menambahkan tafsirnya, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum mu’atthilah dan muwawilah yang memalingkan makna yang zhahir kepada makna yang batil. Maka barang siapa yang mentakyif maka ia adalah mujassimah, dan barang siapa yang mentakwil maka ia telah memasukkan makna batil dari makna yang ia keluarkan dari zhahirnya nash yang hakiki.”
(Aqidatul Asyaa’irah hal. 240)

Demikian pula dengan pernyataan Ibnu ‘Uyainah terkait tafsir ayat-ayat sifat, yang beliau mengatakan tafsir ayat sifat adalah dengan membacanya. Asy-Syaikh An-Najjar menjelaskan :

المراد …. أنها على ظاهرها المعروف في لغة العرب من غير تمثيل ولا بكيف.

Maksudnya ialah bahwa ayat-ayat sifat tersebut sesuai dengan zhahirnya yang telah diketahui dalam bahasa Arab tanpa tamtsil dan takyif.”

Abul Qosim At-Taimiy menjelaskan perkataan Al-Imam Sufyan Ibnu ‘Uyainah diatas, beliau berkata :

إنما هي على ظاهرها المعروف المشهور من غير كيف يتوهم فيها، ولا تشبيه ولا تأويل

“Maksudnya ialah bahwa ayat-ayat sifat tersebut sesuai dengan zhahirnya yang telah diketahui, yang masyhur tanpa kaifiyah (tata cara, bentuk sifat) yang dapat dibayangkan sifat tersebut, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa mentakwilkannya.”

Para salaf terkadang memang menyerahkan maknanya kepada Allah, akan tetapi jika sifat tersebut tidak diketahui hakikatnya, akan tetapi tidaklah dipahami bahwa ini adalah tafwidh mutlak !! Sedangkan mayoritas sifat-sifat Allah -sebagaimana penjelasan ulama salaf- adalah sifat hakiki yang diketahui maknanya secara bahasa.

Oleh karena itulah Al-Imam Malik mengatakan bahwa Istiwa adalah sesuatu yang maklum, diketahui dari sisi maknanya, berbeda dengan kaifiyahnya yang tidak diketahui, yang ini tidak akan mampu dijangkau oleh akal siapapun.
(Baraatu Aimmati As-Salaf minat Tafwidh)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahmatullah ‘alaihi menyatakan :

و أما التفويض فمن المعلوم أن الله أمرنا بتدبر القرآن و حضنا على عقله و فهمه، فكيف مع ذلك أن يراد منها الإعراض عن فهمه و معرفته و عقله

“Adapun tafwidh, maka telah diketahui bahwa Allah memerintahkan kita untuk mentadabburi Al-Qur’an dan mengajurkan kita untuk memahaminya. Maka bagaimana mungkin tafwidh tersebut diperkenankan, bahwa yang diinginkan Allah terhadap kita untuk berpaling dari memahami, mengetahui dan memikirkan kandungan Al-Qur’an ?”

Beliau melanjutkan,

و حينئذ فيكون ما وصف الله به نفسه في القرآن أو كثير مما وصف الله به نفسه لا يعلم الأنبياء معناه بل يقولون كلاما لا يعقلون معناه

“Maka berarti apa yang telah Allah sifati diriNya di Al-Qur’an, atau sekian banyak yang disifati Allah tentang diriNya, para Nabi tidak mengetahui nya, bahkan mereka mengucapkan sebuah ucapan yang mereka tidak ketahui maknanya.”

Maka ini adalah celaan bagi para Nabi, ketika Allah berfirman bahwa Ia memiliki Dua Tangan, maka Nabi tidak mengetahui maknanya dan seterusnya.

Maka tafwidh memiliki dua, ada yang benar dan batil. Makna yang benar, yaitu menetapkan lafazh dan makna yang terkandung di dalamnya, kemudian menyerahkan ilmu tentang tata caranya kepada Allah Ta’ala. Kita menetapkan nama-nama yang mulia bagi Allah Ta’ala serta sifat-sifatNya yang agung dan kita mengetahui maknanya serta mengimaninya. Hanya saja kita tidak mengetahui tata caranya.

Kita beriman bahwa Allah Ta’ala bersistiwa di atas Al-‘Arsy, yaitu bersistiwa secara hakiki yang sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya yang maha suci, bukan seperti beristiwa’nya manusia. Akan tetapi bagaimana Dia beristiwa’, adalah perkara yang tidak kita ketahui. Karenanya, maknanya (terkait kaifiyah atau tentang tata caranya) kita serahkan kepada Allah.. Menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala. Yaitu penetapan yang tanpa menyerupai (dengan makhluk) dan menetapkan tata caranya. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Makna yang batil, yaitu menetapkan lafaz tanpa mengetahui maknanya. Mereka hanya menetapkan lafaznya saja,
(الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)

setelah itu mereka berkata, “Kami tidak mengetahui maknanya dan tidak mengetahui apa yang Allah maksud dari kalimat ini.”

Bersambung insyaallah….

Taman Sakinah Tambun

= al ustadz Abu Hanifah Jandriadi Yasin

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: