Uncategorized

Awal Kesesatan Jahm bin Shafwan

============================
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Daru Ta’ârud Al-‘Aql wa An-Naql menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkata,

“Begitu juga Jahm dan para pengikutnya yang mengajak manusia kepada perkara mutasyabihat dalam Al-Quran dan Hadits. Dengan perkataan mereka mereka menyesatkan banyak manusia. Dan yang sampai kepada kami mengenai kabar Jahm sang musuh Allah yaitu bahwasanya Jahm adalah seorang penduduk Khurasan dari daerah Turmudz. Beliau orang yang banyak berbicara dan berdebat. Kebanyakan pembicaraannya berkisar tentang Allah.

Suatu hari ia bertemu kaum musyrikin yang disebut As-Sammuniyyah, dimana mereka sudah mengetahui sepak terjang Jahm. Mereka berkata,” Kami akan mendebatmu (tentang Allah) jika hujjah kami menang maka engkau harus masuk kedalam agama kami. Jika hujjahmu yang menang maka kami yang akan masuk ke dalam agamamu.

Mereka bertanya, “Bukankah engkau berkeyakinan engkau memiliki ilah?, “Iya”, jawab Jahm. “Apakah engkau melihat ilah mu?, “tidak”, jawab Jahm. “Apakah engkau mendengar suara-Nya?”, “tidak”, jawab Jahm. “Apakah engkau bisa mencium aroma-Nya?”, “tidak”, jawab Jahm. “Apakah engkau bisa merasakan wujud-Nya?”, “tidak”, jawab Jahm. “Lalu bagaimana engkau tau bahwa Dia adalah ilah mu?

Maka Jahm kebingungan dan selama 40 hari dia tidak tau siapa yang ia sembah. Kemudian ia mendapatkan hujjah seperti hujjahnya kaum zindiq Nashrani. Yaitu mereka berkeyakinan ruh yang ada pada Nabi Isa adalah ruh Allah. Jika Ia hendak memerintahkan suatu perkara Ia akan masuk kedalam sebagian mahluk-Nya. Lalu Ia berbicara melalui lisan mahluk-Nya, lalu memerintahkan apa yang Ia mau dan melarang apa yang Ia mau. Dan itu adalah ruh yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan.

Jahm pun berhujjah seperti hujjah ini ia pun bertanya balik kepada kaum musyrikin tersebut, “Bukankah kalian meyakini kalian memiliki ruh?”, “betul”, jawab mereka. “Apakah kalian melihat ruh kalian?”, “tidak”, jawab mereka. “Apakah kalian mendengar suaranya?”, “tidak”, jawab mereka. “Apakah kalian mencium aromanya?”, “tidak”, jawab mereka. “Apakah kalian mendapatinya dalam bentuk suatu wujud?”, “tidak”, jawab mereka. Begitu juga Allah, kata Jahm. Tidak bisa dilihat wajah-Nya, tidak bisa didengar suara-Nya, tidak bisa dicium aroma-Nya. Dan Ia tidak bisa dijangkau oleh penglihatan dan Ia tidak bertempat.

Jahm mendapatkan tiga ayat di dalam Al-Quran diantara ayat-ayat mutasyabihat yaitu
ليس كمثله شيء (الشورى:١١)
tidak ada yang serupa dengan-Nya
وهو الله في السماوات و في الأرض (الأنعام:٣)
Dan Dia lah Allah yang ada di langit dan di bumi.
لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار (الأنعام:١٠٣)
Dia tidak bisa dijangkau oleh penglihatan manusia, namun Ia mengetahui penglihatan manusia.

Atas tiga ayat inilah Jahm membangun aqidahnya. Beliau mentakwil Al-Quran tidak sesuai tafsirnya. Dan mendustakan hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Jahm berkeyakinan bahwa barangsiapa mensifatkan Allah dengan suatu sifat yang Allah sifatkan diri-Nya di Kitab-Nya atau yang disifati oleh Rasul-Nya, maka dia kafir dan dia termasuk kaum musyabbihah. Dengan ucapannya ini Jahm menyesatkan banyak manusia. Dan diantara yang mengikuti jejaknya adalah seseorang dari pengikut Imam Abu Hanifah dan para pengikut ‘Amr bin ‘Ubaid di Bashrah. Lalu mereka membuat agama Jahmiyah.

Daru Ta’ârud Al-‘Aql wa An-Naql 2/336-337 Maktabah Tawqifiyah

=====

Mohammad Sidiqi

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2025502807479605&id=100000597161049

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

%d blogger menyukai ini: