Uncategorized

KATA MEREKA: “IKUT PEMILU ITU MASALAH KHILAFIYYAH IJTIHADIYYAH, JADI TIDAK PERLU MENGINGKARI ORANG YANG IKUT PEMILU

🎙 *”*

بسم الله الرحمن الرحيم.

Ucapan di atas dibangun di atas kaedah “Tidak Ada Ingkar Dalam Masalah Khilaf”. Ini adalah kaedah yang batil yang sering digunakan para Ahli Bid’ah dan Hizbiyyah yang menyelisihi prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan prinsip Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah ketika berselisih.

➡Allah Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS.Ali Imran:104)

➡Dan berfirman:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Maka jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya (bagi kalian).
(QS.An-Nisa:59)

➡Berkata Al-Allamah Ibnul-Qayyim rahimahullah:

ﻭﻗﻮﻟﻬﻢ: “ﺇﻥ ﻣﺴﺎﺋﻞ اﻟﺨﻼﻑ ﻻ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻓﻴﻬﺎ ” ﻟﻴﺲ ﺑﺼﺤﻴﺢ؛

Ucapan mereka: sesungguhnya masalah-masalah khilaf tidak boleh ada pengingkaran padanya adalah tidak benar.
📚(I’lãmul-Muwaqqi’in:3/223)

Beliau juga berkata:

ﻭﻛﻴﻒ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻘﻴﻪ ﻻ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺎﺋﻞ اﻟﻤﺨﺘﻠﻒ ﻓﻴﻬﺎ ﻭاﻟﻔﻘﻬﺎء ﻣﻦ ﺳﺎﺋﺮ اﻟﻄﻮاﺋﻒ ﻗﺪ ﺻﺮﺣﻮا ﺑﻨﻘﺾ ﺣﻜﻢ اﻟﺤﺎﻛﻢ ﺇﺫا ﺧﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺃﻭ ﺳﻨﺔ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻗﺪ ﻭاﻓﻖ ﻓﻴﻪ ﺑﻌﺾ اﻟﻌﻠﻤﺎء؟

Bagaimana (mungkin) seorang Faqih akan berucap: “tidak boleh ada ingkar dalam masalah-masalah yang diperselisihkan” sedangkan para Fuqaha dari semua kelompok (madzhab) secara terang-terangan membantah hukum seorang hakim jika menyelisihi Al-Quran atau Sunnah sekalipun dia mencocoki sebagian ulama dalam masalah tersebut.?
(I’lãmul-Muwaqqi’in:3/224)

➡Dan berkata Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah:

ﻫﺬﻩ اﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﻗﺪ ﺻﺎﺭﺕ ﺃﻋﻈﻢ ﺫﺭﻳﻌﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﺪ ﺑﺎﺏ اﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭاﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ اﻟﻤﻨﻜﺮ ….

Ucapan ini telah menjadi wasilah terbesar untuk menutup pintu amar ma’ruf nahi mungkar…
📚(As-Sail Al-Jarrãr:4/588)

Beliau berkata:

ﻓﺎﻟﻮاﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﺑﻬﺬﻩ اﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﻟﺪﻳﻪ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﻣﻦ ﻣﻌﺮﻭﻓﻬﺎ ﻭﻣﻨﻜﺮﻫﺎ ﺃﻥ ﻳﺄﻣﺮ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻤﻪ ﻣﻌﺮﻭﻓﺎ ﻭﻳﻨﻬﻰ ﻋﻤﺎ ﻋﻠﻤﻪ ﻣﻨﻜﺮا ﻓﺎﻟﺤﻖ ﻻ ﻳﺘﻐﻴﺮ ﺣﻜﻤﻪ ﻭﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﻭﺟﻮﺏ اﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﻭاﻷﻣﺮ ﺑﻔﻌﻠﻪ ﻭاﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻔﻪ ﺑﻤﺠﺮﺩ ﻗﻮﻝ ﻗﺎﺋﻞ ﺃﻭ اﺟﺘﻬﺎﺩ ﻣﺠﺘﻬﺪ ﺃﻭ اﺑﺘﺪاﻉ ﻣﺒﺘﺪﻉ

Yang wajib atas orang yang memilki ilmu tentang syariat ini dan pengetahuan hakikat yang ma’ruf dan yang mungkar adalah dia memerintahkan apa yang dia ketahui ma’ruf dan melarang dari apa yang dia ketahui mungkar. Al-haq itu tidak akan berubah-rubah hukumnya, dan tidak akan gugur dari beramal dengannya dan memerintahkan untuk melakukannya dan mengingkari orang yang menyelisihinya yang sekedar mengikuti ucapan orang, atau IJTIHADNYA MUJTAHID, atau bid’ahnya mubtadi’.
📚(As-Sail Al-Jarrãr:4/589)

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa masalah khilafiyyah ijtihadiyyah ada 2 macam:

✅Pertama:
Masalah tersebut adalah murni ijtihad seorang Alim dan tidak ada dalil yang jelas dalam masalah tersebut dan masih dalam ruang lingkup dibolehkannya ijtihad. Maka masalah seperti ini tidak ada ingkar terhadap orang yang mengikuti pendapat tersebut.

Berkata Al-Allamah Ibnul-Qayyim rahimahullah:

ﻭﺃﻣﺎ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺳﻨﺔ ﻭﻻ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﻭﻟﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﺴﺎﻍ ﻟﻢ ﺗﻨﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﺠﺘﻬﺪا ﺃﻭ ﻣﻘﻠﺪا.

Adapun jika pada suatu masalah tidak terdapat sunnah atau ijma dan ijtihad di dalamnya boleh maka tidak diingkari atas orang yang mengamalkannya; baik dia seorang mujtahid atau muqallid.
📚(I’lãmul-Muwaqqi’in:3/224)

✅Kedua:
Masalah tersebut telah datang dalil-dalil yang menunjukkannya. Hal ini terdapat dua keadaan:

▶Keadaan pertama:
Pendapat seorang Alim atau ulama jelas-jelas menyelisihi dalil nash (jelas dan gamblang) baik dari Al-Quran, Sunnah atau Ijma. Keadaan ini wajib untuk diingkari.

Berkata Al-Allamah Ibnul-Qayyim rahimahullah:

ﻓﺈﻥ اﻹﻧﻜﺎﺭ ﺇﻣﺎ ﺃﻥ ﻳﺘﻮﺟﻪ ﺇﻟﻰ اﻟﻘﻮﻝ ﻭاﻟﻔﺘﻮﻯ ﺃﻭ اﻟﻌﻤﻞ، ﺃﻣﺎ اﻷﻭﻝ ﻓﺈﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻘﻮﻝ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﺷﺎﺋﻌﺎ ﻭﺟﺐ ﺇﻧﻜﺎﺭﻩ اﺗﻔﺎﻗﺎ،

Sesunguhnya pengingkaran kadang dihadapkan terhadap suatu pendapat dan fatwa atau perbuatan. Adapun yang pertama (pendapat dan fatwa) maka jika pendapat tersebut menyelisihi sunnah atau ijma maka wajib mengingkarinya berdasarkan kesepakatan (ulama).
(I’lãmul-Muwaqqi’in:3/223-224)

▶Keadaan kedua:
Pendapat seorang Alim atau Ulama yang dibangun di atas ijtihad dalam memahami dalil-dalil yang ada dan keliru dalam masalah tersebut. Maka seperti ini diingkari dengan menjelaskan kelemahan pendapat atau fatwanya tersebut dengan hujjah dan penjelasan.

Berkata Al-Allamah ibnul-Qayyim rahimahulllah:

ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﺈﻥ ﺑﻴﺎﻥ ﺿﻌﻔﻪ ﻭﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺪﻟﻴﻞ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻣﺜﻠﻪ،

Dan jika tidak demikian (tidak menyelisihi dalil nash), maka menjelaskan kelemahannya dan penyelisihannya terdapat dalil adalah bentuk pengingkaran juga.
📚(I’lãmul-Muwaqqi’in:3/224)

Jadi, cara menghadapi masalah seperti ini adalah dengan hujjah dan penjelasan. Akan tetapi, tidak dilakukan secara keras sehingga sampai taraf hajar (boikot) dan yang semisalnya.

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyata rahimahullah:

” قال العلماء المصنفون في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر من أصحاب الشافعي وغيره: مثل هذه المسائل الاجتهادية لا تنكر باليد، وليس لأحد أن يلزم الناس باتباعه فيها ؛ ولكن يتكلم فيها بالحجج العلمية ، فمن تبين له صحة أحد القولين تبعه ، ومن قلد أهل القول الآخر فلا إنكار عليه

Para ulama yang menulis tentang masalah amar ma’ruf nahi munkar dari kalangan pengikut madzhab Syafi’i dan selainnya berkata:
Masalah-masalah ijtihadiyyah seperti ini tidaklah diingkari dengan tangan (maksudnya: secara keras), dan tidak boleh seorang pun mengilzam (memaksa) orang-orang untuk mengikutinya dalam masalah tersebut. Akan tetapi, (yang dituntut) adalah dia berbicara dengan hujjah ilmiyyah, barangsiapa yang telah jelas baginya salah satu pendapat maka dia ikuti dan barangsiapa yang mengikuti pendapat lainnya maka tidak boleh diingkari (dengan keras).
📚(Majmu Al-Fatawa:30/80)

👉Sekarang kita terapkan dalam masalah pemilu. “Taruhlah” masalah pemilu adalah masalah khilafiyyah ijtihadiyyah maka berdasarkan penjelasan di atas adalah tetap diingkari. Karena hujjah tentang tidak bolehnya ikut pemilu sangat banyak dan jelas.
Silahkan baca kitab “Tanwir Azh-Zhulumãt Likasyf Mafãsid wa Syubuhat Al-Intikhãbãt” oleh Syaikh Muhammad ibn Abdillah Al-Imam hafidzahullah. Sebuah kitab yang membahas kerusakan-kerusakan pemilu dan syubhat-syubhatnya secara rinci.

Oleh karena itu, kami tetap akan mengingkari pemilu dan orang yang ikut serta sekalipun menurut sebagian orang mayoritas ulama membolehkannya, dan sekalipun yang membolehkannya adalah mereka yang berintisab kepada Ahlussunnah dan dakwah sunnah, kecuali dalam keadaan darurat (seperti jika calon presiden hanya ada 2; muslim dan kafir) atau dipaksa pemerintah yang membahayakan nyawa.

وبالله التوفيق.

🗓13 Syawwal 1439
✍🏻Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: