Uncategorized

SEPUTAR PUASA 6 HARI DI BULAN SYAWWAL

بسم الله الرحمن الرحيم.

Sesungguhnya diantara tanda diterima amalan seorang hamba adalah ketika dia mengikuti amalan shalehnya dengan amalan shaleh berikutnya.

Berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah:

ﻓﺈﻥ اﻟﻠﻪ ﺇﺫا ﺗﻘﺒﻞ ﻋﻤﻞ ﻋﺒﺪ ﻭﻓﻘﻪ ﻟﻌﻤﻞ ﺻﺎﻟﺢ ﺑﻌﺪﻩ
Sesungguhnya Allah jika menerima amalan hambaNya maka Dia memberi taufiq kepadanya untuk mengerjakan amalan shaleh setelahnya. (Lathaif Al-Ma’arif:286)

Diantara amalan shaleh yang disyariatkan secara khusus untuk dilakukan setelah bulan Ramadhan adalah puasa 6 hari di bulan Syawwal. Oleh karena itu, berikut ini penulis paparkan beberapa masalah yang berkaitan dengan puasa tersebut sehingga seorang muslim beramal di atas ilmu yang benar.

✅Masalah Pertama:
Hukum Puasa 6 Hari Di Bulan Syawwal

Para ulama berbeda pendapat tentang masalah ini.
➡Pendapat Pertama,
Puasa 6 hari di bulan Syawwal adalah makruh. Ini adalah pendapat Imam Malik dan satu riwayat dari Abu Hanifah.

dalil mereka:
-tidak diketahui seorang pun dari Salaf yang melakukannya atau memotivasi untuk melakukannya, hal ini menunjukkan bahwa berpuasa 6 hari ini adalah sesuatu yang baru dalam agama.
-ditakutkan akan diikutkan kepada puasa Ramadhan yang bukan bagian darinya.
-menutup pintu agar tidak dianggap oleh orang-orang awam bahwa puasa tersebut wajib.

➡Pendapat Kedua,
Hukumnya adalah sunnah. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyyah, pendapat yang masyhur di kalangan Hanafiyyah, dan pendapat sebagian ulama Malikiyyah. Atau kita katakan ini adalah pendapat mayoritas ulama.
Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah:
Kesimpulannya bahwa Puasa 6 hari bulan Syawwal adalah sunnah menurut kebanyakan para ulama. Pendapat ini diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar, Asy-Sya’bi dan Maimun ibn Mihran (mereka adalah Tabiin, pen) dan ini adalah pendapat Asy-Syafii.
📚(Al-Mughni:3/56)

Dalil mereka:
Hadits Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seperti berpuasa setahun penuh.”
(HR.Muslim no.1164)

Juga telah datang dari hadits Tsauban radhiyallahu anhu. (HR.Ibnu Majah no.1715 dengan sanad shahih) dan hadits Jabir radhiyallahu (HR.Ahmad no.14302, shahih lighairih)

Adapun dalil-dalil yang dikemukan pendapat pertama maka dijawab:
-Tidak diketahuinya ada seorang yang mengamalkan di kalangan salaf bukan dalil tidak adanya pensyariatannya, karena bisa jadi belum sampai kepada mereka hadits tersebut. Dan ini sering terjadi di kalangan Salaf. Dan adanya dalil yang shahih adalah hujjah atas mereka. Oleh karena itu, Al-Hafidz Ibnu Abdil-Barr Al-Maliki memberi udzur kepada Imam Malik dengan ucapannya:

لم يبلغ مالكا حديث أبي أيوب هذا

“Belum sampai kepada Malik hadits Abu Ayyub ini.”

-adapun alasan mereka bahwa ditakutkan akan diikutkan kepada puasa Ramadhan yang bukan bagian darinya adalah alasan yang tertolak, karena puasa Ramadhan dan puasa Syawwal diselingi oleh Idhul-Fithri yang mana dilarang berpuasa di dalamnya.

-dan adapun alasan mereka agar tidak dianggap oleh orang-orang awam bahwa puasa tersebut wajib adalah alasan yang tertolak, karena telah disunnahkan juga berbagai puasa sunnah seperti puasa Asyura, puasa Arafah, dan selainnya, dan mereka pun berpendapat sunnahnya puasa-puasa tersebut, padahal ditakutkan juga akan dianggap wajib oleh orang-orang awam.

📝Kesimpulan:
Pendapat yang kuat adalah pendapat mayoritas ulama karena adanya dalil nash (jelas) dalam masalah ini sebagaimana hadits Abu Ayyub di atas.

✅Masalah Kedua:
Apakah Puasa 6 Hari Tersebut Harus Dikerjakan Secara Berturut?

▶Pertama, tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama yang berpendapat sunnahnya puasa 6 hari tersebut bahwa puasa tersebut boleh dikerjakan secara berurut atau terpisah, baik itu dikerjakan di awal bulan atau di akhir bulan, atau dikerjakan sebagiannya di awal bulan dan sebagiannya di akhir bulan. Hal ini karena hadits Abu Ayyub di atas datang secara mutlaq tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu.

▶Kedua, para Ulama tersebut berbeda pendapat: manakah yang lebih afdhol?

➡Pendapat pertama,
Menyegerakan di awal bulan atau mengakhirkannya adalah sama. Ini adalah pendapat yang shahih di kalangan madzhab Hanabilah.

Dalil mereka:
Karena menyegerakan dan mengakhirkannya sama-sama memiliki kelebihan. Menyegerakannya afdhol dari sisi karena lebih dekat bersambungnya dengan Ramadhan dan lebih cepat dalam melaksanakan ketaatan. Sedangkan mengakhirkannya afdhol dari sisi agar tidak diikutkan dengan puasa Ramadhan apa yang bukan bagian darinya.

➡Pendapat Kedua,
Mengakhirkannya adalah afdhol. Ini salah satu pendapat di kalangan madzhab Hanafiyyah.

Dalil mereka:
Agar tidak ditambahkan pada bulan Ramadhan apa yang bukan bagian darinya karena sebab disegerakannya setelah Idhul-Fithri, lalu disangka orang-orang adalah suatu kewajiban karena bersambungnya dengan Ramadhan.

➡Pendapat Ketiga,
Yang afdhol adalah menyegerakan di awal bulan langsung setelah Idhul-Fithri dan dikerjakan secara berurutan. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’iyyah, salah satu pendapat di kalangan madzhab Hanafiyyah dan sebagian Hanabilah.

Dalil mereka:
Karena ini adalah bentuk bersegera dalam melaksanakan kebaikan.
Allah berfirman:
فاستبقوا الخيرات

Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. (QS.Al-Baqarah:148)

Dan juga karena seorang tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya bisa jadi hari ini masih hidup dan besok mati.

📝Kesimpulan:
Pendapat yang kuat adalah pendapat terakhir, yaitu dikerjakan di awal bulan Syawwal setelah Idhul-Fithri secara berurutan.

✅Masalah Ketiga:
Bagi Mereka Yang Memiliki Kewajiban Qadha Puasa Ramadhan, Apakah Harus Menyelesaikan Puasa Qadha Sebelum Puasa Syawwal?

Masalah ini dibangun di atas masalah: apakah boleh puasa sunnah sebelum mengqadha puasa Ramadhan?
➡Pendapat pertama,
Tidak boleh dan tidak sah puasa Syawwal sebelum mengqadha puasa Ramadhan. Ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan Madzhab Hanabilah, dan dirajihkan oleh Lajnah Daimah dan Al-Utsaimin dan lainnya.

Dalil mereka adalah zhahir hadits Abu Ayyub yang telah lalu. Hadits tersebut menunjukkan bahwa keutamaan puasa setahun diraih bagi mereka yang telah menyelesaikan puasa Ramadhan baik secara adã (pelaksanaan saat waktunya yaitu Ramadhan) atau setelah qadha.

➡Pendapat kedua,
Bagi mereka yang berpendapat bolehnya puasa sunnah sebelum mengqadha puasa Ramadhan maka boleh berpuasa Syawwal sebelum menyelesaikan puasa Qadha. Ini adalah pendapat mayoritas Fuqaha, yang merupakan madzhab Hanafiyyah dan sebagian ulama Hanabilah. Adapun Malikiyyah dan Syafi’iyyah membolehkan disertai dengan karahah (makruh).

Dalil-dalil mereka:
-firman Allah:
…فعدة من أيام أخر

Maka (wajib baginya mengqadha hari-hari yang ditinggalkan itu) di hari-hari yang lain. (QS.Al-Baqarah:184)

Ayat ini umum mencakup qadha sebelum puasa syawwal atau setelahnya.

-hadits Aisyah radhiyallahu anha ia berkata:

كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ

Dahulu saya memiliki tanggungan puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.
(HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu qadha puasa Ramadhan itu luas sampai bulan sya’ban. Suatu kemungkinan yang jauh jika Aisyah tidak berpuasa sunnah sekalipun sehari di sepanjang waktu tersebut. Dan diantara puasa sunnah adalah puasa syawwal.

-adapun hadits Abu Ayyub di atas maka diawab:
Jika diambil zhahir hadits maka yang mendapatkan keutamaan puasa Syawwal adalah mereka yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan saja, karena mereka yang memiliki tanggungan qadha sekalipun mengqadhanya sebelum puasa syawwal tetap saja tidak melaksanakannya di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, hadits tersebut diartikan oleh para ulama mencakup orang yang telah melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan secara penuh atau secara qadha setelah Ramadhan. Jika demikian, maka dikatakan: hadits tersebut mencakup juga orang yang mengqadha sebelum Puasa Syawwal atau setelahnya.

Dan sebagian mereka yang berpendapat harus mendahulukan qadha juga berpendapat disunnahkannya mengaqdha puasa Syawwal di bulan lain jika tidak sempat melaksanakannya di bulan syawwal. Ini pun bertentangan dengan zhahir hadits karena hadits menunjukkan bahwa yang mendapatkan keutamaan adalah mereka yang berpuasa di bulan syawwal.

📝Kesimpulan:
Pendapat tentang bolehnya puasa sunnah Syawwal sebelum puasa Qadha adalah pendapat yang kuat, dan lebih afdholnya adalah mendahulukan puasa qadha; karena ini lebih hati-hati, juga sebagai bentuk keluar dari perselisihan pendapat, karena masalah yang diperselisihkan adalah apakah boleh mendahulukan puasa syawwal sebelum Puasa qadha?

✅Masalah Keempat:
Jika Terluput Puasa Syawwal, Apakah Boleh mengqadhanya Di Bulan Setelahnya?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
➡pendapat pertama,
Tidak disyariatkan mengqadha. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah dan Hanabilah, dan dikuatkan oleh Syaikh Ibn Baz.

Alasannya:
Karena puasa Syawwal dikaitkan dengan bulan syawwal berdasarkan zhahir hadits, dan akan terluput jika waktunya telah berlalu. Dan juga bahwasanya orang yang telah terbiasa dengan suatu amalan jika terluput darinya karena udzur syar’i maka akan dapat pahala sebagaimana ia melakukannya tanpa udzur.

➡pendapat kedua,
Disunnahkan untuk mengqadhanya. Pendapat ini disebutkan oleh sebagian fuqaha Syafi’iyyah dan dikuatkan oleh syaikh Al-Utsaimin.

Alasannya:
Sebagaimana diwajibkan mengqadha puawa wajib jika ditinggalkan karena udzur, maka disunnahkan juga mengqadha puasa sunnah jika terluput karena udzur.

➡Pendapat ketiga,
boleh melaksanakan puasa syawwal di bulan apa saja, dan tidak dinamakan qadha. Pendapat ini disebutkan oleh sebagian ulama Malikiyyah.

Alasannya:
Penyebutannya bulan Syawwal bukanlah pengkhususan waktu, melainkan karena kemudahan berpuasa disebabkan masih terbiasa berpuasa (yang baru selesai Puasa Ramadhan).

📝Kesimpulan:
Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama, yaitu tidak disyariatkan mengqadha puasa Syawwal jika telah terluput waktunya baik itu karena udzur atau tidak.

📚[Sumber Utama Pembahasan:
Asy-Syamil li-Masail Ash-Shiyam:321-326, Ittihãful-Anãm Bi Ahkãm wa Masail Ash-Shiyam:186-188, Al-Masu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah:28/92-93, dan 28/100, dan dikembangkan oleh penulis]

وبالله التوفيق.

🗓3 Syawwal 1439
✍🏻Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: