Uncategorized

Sunnahkah Nikah Di Bulan Syawwal?

بسم الله الرحمن الرحيم

Telah datang dari hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwasanya beliau berkata:

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَسْتَحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku pada bulan Syawwal, dan mulai berumah tangga bersamaku pada bulan Syawwal, maka tidak ada di antara istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih mendapatkan keberuntungan daripadaku.” Perawi berkata: “Oleh karena itu, Aisyah sangat senang menikahkan para wanita di bulan Syawwal.”
(HR.Muslim)

Hadist di atas dijadikan dalil oleh sebagian Fuqaha bahwa menikah di bulan Syawwal adalah sunnah.

Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah:

فيه استحبابُ التزويجِ والتزوُّجِ والدُّخولِ في شوالٍ، وقد نصَّ أصحابُنا على استحبابهِ، واستدلُّوا بهذا الحديثِ.

Dalam hadits ini terdapat faedah disunnahkan menikahkan, menikah, dan mulai berumahtangga di bulan Syawwal. Dan sahabat-sahabat kami (ulama Syafi’iyyah) telah menegaskan tentang sunnahnya, dan mereka berdalil dengan hadits ini.
📚(Syarh Shahih Muslim:9/209)

Apa yang dikemukan oleh An-Nawawi juga adalah pendapat Madzhab Malikiyyah sebagaimana dalam Mawahib Al-Jalil:3/408, dan juga sebagian Hanabilah sebagaimana dalam Al-Inshaf:8/38.

▶Akan tetapi, berdalil dengan hadits di atas tentang sunnahnya nikah di bulan Syawwal perlu ditinjau kembali. Menetapkan suatu perbuatan adalah sunnah merupakan hukum syar’i, harus membutuhkan dalil yang jelas.

Adapun hadits di atas maka tidaklah jelas menunjukkan sunnahnya menikah dibulan Syawwal, dengan beberapa alasan:
➡-Rasululllah shallallahu alaihi wasallam tidak memaksudkan secara khusus nikah di bulan syawwal, melainkan karena bertepatan saja dan ada maksud lain yaitu untuk menyelisihi keyakinan orang-orang jahiliyyah yang mana dulu mereka meyakini sialnya menikah di bulan Syawwal.
➡diantara yang menguatkan tidak sunnahnya menikah di bulan syawwal bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasallam telah menikahi beberapa istri beliau setelah Aisyah bukan di bulan Syawwal, kalau sekiranya menikahnya beliau pada bulan tertentu adalah sunnah maka seharusnya kita katakan juga bahwa menikah di semua bulan yang pernah beliau menikah di dalamnya adalah sunnah.!
➡Sekedar terjadi pada waktu tertentu tidaklah menunjukkan sunnah, karena jika menunjukkan sunnah berarti semua waktu yang beliau menikah di dalamnya adalah sunnah mulai dari bulannya, harinya, siang atau malamnya. Dan ini sesuatu yang tidak diterima kecuali jika ada dalil yang mengkhususkan.

Dan diantara yang tidak sepakat dengan pendalilan hadits Aisyah di atas tentang sunnahnya nikah di bulan Syawwal adalah Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah. Ucapan beliau semakna dengan apa yang penulis uraikan di atas. 📚Lihat Nailul-Authar:6/225.

Dengan demikian, menikah di bulan syawwal asalnya bukanlah sunnah melainkan seperti nikah di bulan-bulan lainnya yaitu boleh.

Berkata Ibnu Abidin Al-Hanafi menukil dari Al-Bazzaziyyah:

ﻭاﻟﺒﻨﺎء ﻭاﻟﻨﻜﺎﺡ ﺑﻴﻦ اﻟﻌﻴﺪﻳﻦ ﺟﺎﺋﺰ ﻭﻛﺮﻩ اﻟﺰﻓﺎﻑ، ﻭاﻟﻤﺨﺘﺎﺭ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ «ﻷﻧﻪ – ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺴﻼﻡ – ﺗﺰﻭﺝ ﺑﺎﻟﺼﺪﻳﻘﺔ ﻓﻲ ﺷﻮاﻝ ﻭﺑﻨﻰ ﺑﻬﺎ ﻓﻴﻪ»

Berumah-tangga dan nikah di antara ‘Idhain (yaitu Syawwal dan Dzul-Qa’dah) adalah sesuatu yang boleh, dan dimakruhkan berpesta (walimah), pendapat yang terpilih adalah tidak dimakruhkan karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menikahi Aisyah Ash-Shidiqah dan berumah-tangga dengannya di bulan syawwal.
📚(Hasyiyah Ibn Abidin:3/8)

Bahkan sebagian Fuqaha Syafi’iyah berpendapat bahwa nikah di bulan syawwal sama seperti bulan lainnya tidak ada perbedaan.

Berkata Ali Asy-Syibramilsi Asy-Syafi’i rahimahullah:

ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﻳﺴﻦ ﺃﻥ ﻳﺘﺰﻭﺝ ﻓﻲ ﺷﻮاﻝ ﺃﻱ ﺣﻴﺚ ﻛﺎﻥ ﻳﻤﻜﻨﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ ﻋﻠﻰ اﻟﺴﻮاء ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪ ﺳﺒﺐ ﻟﻠﻨﻜﺎﺡ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻌﻠﻪ

Dan ucapannya (penulis Al-Minhaj): “disunnahkan menikah di bulan syawwal”, yaitu jika memungkinkan baginya nikah di bulan tersebut dan di bulan lainnya tak ada bedanya. Jika telah ada sebab untuk nikah di bulan selainnya maka (hendaklah) dilakukan.
📚( Nihayatul-Muhtaj:6/185)

Saya katakan:
Jika telah ada ‘illah (sebab/alasan) yang mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maksudkan yaitu menyelisihi keyakinan batil bahwa menikah di bulan syawwal adalah sial maka hukumnya pun menjadi sunnah, begitu juga di bulan lainnya.

Oleh karena itu, Al-Imam An-Nawawi sendiri menjelaskan ucapan Aisyah radhiyallahu anha di atas:
“Aisyah radhiyallahu anha memaksudkan dengan ucapan ini untuk membantah apa yang orang-orang jahiliyyah dahulu yakini. Dan apa yang disangkakan oleh sebagian orang awam sekarang ini berupa kebencian menikah, menikahkan dan berumah tangga di bulan syawwal, ini adalah batil tidak asalnya dan termasuk bekas-bekas pengaruh jahiliyyah yang mana mereka beranggapan sial dengannya.”
📚(Syarh Shahih Muslim:9/209)

Berkata Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafidzahullah:

إذا كان في شوال عادة الناس التشاؤم فيه فيستحب النكاح فيه

Jika kebiasaan orang-orang beranggapan sial di bulan Syawwal maka disunnakan menikah di bulan tersebut.
📒(Faedah Dars Shahih Muslim Bab Istihbab At-Tazawwuj wat Tazwij fi Syawwal)

📝Kesimpulan:
-Hukum asal menikah di bulan Syawwal adalah sekedar mubah (boleh) seperti bulan-bulan lainnya.
-kecuali jika pada bulan syawwal tersebut atau bulan lainnya ada sebagian masyarakat yang beranggapan sial menikah di bulan tersebut maka hukum menikah di bulan tersebut adalah sunnah sebagai bentuk menyelisihi mereka dan membatalkan anggapan mereka.
Wallahu A’lam.

وبالله التوفيق.

🗓5 Syawwal 1439
✍🏻Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: