Uncategorized

NABI MUSA KALÎMUR-RAHMÃN, bukan PREMAN (Sebuah Telaah Kritis dan Nasehat Untuk Hannan at Taki)

بسم الله الرحمن الرحيم.

Setelah kita dikagetkan dengan ucapan “cewek gaul” terhadap Ummul-Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha, ternyata Nabi Musa pun tidak lepas dari ucapan keji dari sang ustadz Hanan Attaki Lc hadãhullah. Sang ustadz berkata tentang Nabi Musa alaihissalam “Premannya Para Nabi Itu Musa”.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Sudah merupakan perkara yang diketahui dengan pasti dalam islam oleh seluruh kaum muslimin yaitu beriman kepada para Nabi dan Rasul.

Allah berfirman:

{آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ}

Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lainnya) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah kami kembali.
(QS.Al-Baqarah:285)

Dan diantara bentuk keimanan kepada Nabi dan Rasul adalah memuliakan mereka dan tidak mencela dan merendahkan kedudukan mereka.

Allah berfirman tentang Nabi kita shallallahu alaihi wasallam:

{إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (٨) لِّتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ … (٩)}

Sesungguhnya Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. supaya kalian sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menolongnya dan memuliakannya…
(QS.Al-Fath:89)

Hal ini berlaku juga untuk semua para Nabi dan Rasul.
✳Berkata Syaikhul-Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah:

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺣﻘﻮﻕ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﻓﻲ ﺗﻌﺰﻳﺮﻫﻢ ﻭﺗﻮﻗﻴﺮﻫﻢ، ﻭﻣﺤﺒﺘﻬﻢ ﻣﺤﺒﺔ ﻣﻘﺪﻣﺔ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﻔﺲ ﻭاﻷﻫﻞ ﻭاﻟﻤﺎﻝ ﻭﺇﻳﺜﺎﺭ ﻃﺎﻋﺘﻬﻢ ﻭﻣﺘﺎﺑﻌﺔ ﺳﻨﺘﻬﻢ…

Sesungguhnya hak-hak para Nabi adalah menolong mereka, menghormati mereka, dan mencintai mereka dengan kecintaan yang melebihi kecintaan kepada diri, harta dan keluarga, dan mengutamakan ketaatan kepada mereka dan mengikuti sunnah-sunnah mereka…
📚(Iqtidhã’ Ash-Shirãth Al-Mustaqîm:2/194)

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa diantara para Nabi yang paling mulia adalah Musa alaihissalam.
➡ Beliau termasuk Rasul Ulul-Azmi (yang paling kuat kesabarannya dan kesungguhannya dalam menanamkan syariat kepada manusia),

Allah berfirman:

{ شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ.}

Dia telah mensyari’atkan bagi kalian tentang suatu agama sebagaimana yang Dia telah wasiatkan kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
(QS.Asy-Syura:13)

Lima Rasul yang disebutkan dalam ayat ini adalah Ulul-Azmi menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama.
📚(Iihat Syarh Ath-Thahawiyyah:311, dan Lawãmi’ul-Anwãr:2/299)

➡Dan lebih tinggi lagi dari sekedar ulul-Azmi beliau adalah Kalimullah/Kalîmur-Rahman (Nabi yang Allah bicara langsung kepadanya di dunia).

Allah berfirman:

{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ …}

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku”….
(QS.Al-A’raf:143)

Dan berfirman:

{وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا}

Dan Allah berbicara langsung dengan Musa (tanpa perantara).
(QS.An-Nisa:164)

Maka sungguh sangat-sangat disayangkan ada seorang ustadz yang tidak tahu kedudukan mulia Nabi Musa Alaihissalam ini.! Nabi yang memiliki kedudukan tinggi tersebut digelari dengan gelar yang keji “preman para Nabi”.

Tahukah anda apa arti preman?
pre·man dalam bahasa Indonesia adalah sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, pemeras, dsb)

Sungguh ini adalah celaan yang keji.!

Dan memang tidak mengherankan jika muncul ucapan keji seperti ini, karena memang pendahulu mereka yang bernama Sayyid Qutub ãfãhullah telah mendahuluinya dengan ucapannya terhadap Nabi Musa:

ﻟﻨﺄﺧﺬ ﻣﻮﺳﻰ. ﺇﻧﻪ ﻧﻤﻮﺫﺝ ﻟﻠﺰﻋﻴﻢ اﻟﻤﻨﺪﻓﻊ اﻟﻌﺼﺒﻲ اﻟﻤﺰاﺝ.

Kami ambil contoh Musa: sungguh dia adalah sosok contoh pemimpin yang tergesa-gesa lagi fanantik dan temperamen.
📒(At-Tashawwur Al-Fanni:200)

Ternyata ucapan sang ustadz hadãhullah lebih keji dan jelek.

Tahukah anda wahai ustadz hukum orang yang mencela seorang Nabi..??

⚡Hukum Orang Yang Mencela dan Merendahkan Para Nabi dan Rasul adalah Kafir

Allah Jalla sya’nuh berfirman:

{وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (٦٥) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ …(٦٦)}

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.
(QS.At-Taubah:65-66)

Hukum orang mencela seorang Nabi sama hukumnya dengan mencela Nabi Muhammad ﷺ yaitu kafir, tidak ada perbedaan antara seorang Nabi dengan Nabi lainnya.

Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

ﻭاﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﺳﺐ ﺳﺎﺋﺮ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﻛﺎﻟﺤﻜﻢ ﻓﻲ ﺳﺐ ﻧﺒﻴﻨﺎ.

Hukum mencela para Nabi sama seperti hukum mencela Nabi kita ﷺ.
📒(Ash-Shãrim Al-Maslûl:565)

Orang yang mencela seorang Nabi hukumnya kafir berdasarkan kesepakatan ulama tidak ada khilaf diantara mereka.

✳Berkata Al-Qadhi Iyãdh rahimahullah:

… ﺃﻭ (من) اﺳﺘﺨﻒ ﺑﻪ ﺃﻭ ﺑﺄﺣﺪ ﻣﻦ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﺃﻭ ﺃﺯﺭﻯ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﻭ ﺁﺫاﻫﻢ ﺃﻭ ﻗﺘﻞ ﻧﺒﻴﺎ ﺃﻭ ﺣﺎﺭﺑﻪ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﺑﺈﺟﻤﺎﻉ

…Atau barangsiapa yang meremehkan beliau ﷺ atau seorang dari para Nabi, atau merendehkan mereka atau menyakiti mereka atau membunuh seorang Nabi atau memeranginya, maka dia adalah KAFIR BERDASARKAN IJMA (kesepakatan ulama).
📚(Asy-Syifâ:2/284)

✳Dan berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

مِن خصائص الأنبياء أنَّ مَن سبَّ نبيًّا مِن الأنبياء قتل باتفاق الأئمة وكان مرتداً

Diantara kekhususan para Nabi adalah bahwasanya siapa yang mencela seorang Nabi dari para Nabi maka DIBUNUH BERDASARKAN KESEPATAN UMAT DAN DIA ADALAH SEORANG YANG MURTAD.
📚(Ash-Shafadiyyah:1/261)

Beliau juga berkata:

ﻭﻣﻦ ﺳﺐ ﻧﺒﻴﺎ ﻣﻦ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ ﻳﺠﺐ ﻗﺘﻠﻪ ﺑﺎﺗﻔﺎﻕ اﻟﻌﻠﻤﺎء

Barangsiapa yang mencela seorang Nabi dari para Nabi maka DIA KAFIR WAJIB DIBUNUH BERDASARKAN KESEPAKATAN ULAMA.
📚(Ash-Shafadiyyah:2/311)

Maka orang yang mencela dan mengeluarkan kata-kata yang buruk terhadap seorang Nabi adalah kafir murtad keluar dari Islam, sama saja apakah dia serius atau bermain-main pada ucapannya, dan sama saja apakah celaan tersebut dia maksudkan kekufuran atau tidak. Kecuali orang yang dipaksa, jahil, dan keliru, dan orang yang tidak tahu (tanpa sadar) apa yang muncul dari ucapannya.
📚(Lihat Syarh Nawaqidhil-Islãm:144-145, oleh Syaikh Muhammad ibn Umar Bazmul)

Namun, kami berbaik sangka kepada sang ustadz, mungkin maksud dari ucapannya bukanlah celaan kepada Nabi Musa, melainkan sekedar memberikan motivasi hijrah kepada kaum muslimin. Akan tetapi, pilihan kata yang diambil kurang tepat, sehingga muncul darinya kata-kata celaan yang dia tidak sadari di lisannya.

Semoga dengan tulisan ini sang ustadz meralat ucapannya dan bertaubat kepada Allah dan kembali kepada kebenaran dan mengikuti jalannya para Salaf.
Dan hendaklah sang ustadz banyak belajar, belajarlah aqidah Ahlussunnah dan manhajnya yang lurus. Tinggalkan sifat suka populeritas, sungguh satu orang yang kembali berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah adalah lebih berharga dari ribuan jamaahmu yang “hijrah” mengikuti jalanmu yang menyimpang dari Alquran dan Sunnah, yang engkau akan pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وبالله التوفيق.

🗓7 Dzul-Qa’dah 1439
🌹Saudaramu yang mengingingkan kebaikan:
✍🏻Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: