Uncategorized

An-Nush An-Naqiy Untuk Hanan At-Taqiy – Nasehat yang Tulus Untuk Hannan at Taki

بسم الله الرحمن الرحيم.

Setelah banyaknya komentar dan kritikan atas kekeliruan ust Hanan Attaki hadãhullah dari ustadz-ustadz dan para penuntut ilmu maka muncullah klarifikasi dari ustadz hadahullah yang menyatakan bahwa dia keliru dalam penggunaan diksi.

Dan inilah yang penulis berprasangka baik kepadanya sebagaimana dalam tulisan saya yang berjudul “Nabi Musa Kalimur-Rahman bukan Preman”:

“Namun, kami berbaik sangka kepada sang ustadz, mungkin maksud dari ucapannya bukanlah celaan kepada Nabi Musa, melainkan sekedar memberikan motivasi hijrah kepada kaum muslimin. Akan tetapi, pilihan kata yang diambil kurang tepat, sehingga muncul darinya kata-kata celaan yang dia tidak sadari di lisannya.” -Selesai-.

Karena jika celaan secara sadar maka orang seperti ini kafir baik serius maupun bercanda.

➡Oleh karena itu, saya nasehatkan kepada ustadz hadãhullah ilassunnah dan selainnya dari para da’i, agar menjauhi penggunaan kata-kata “gaul” (menurut istilah kalian) dalam berdakwah dan menjauhi kata-kata mujmal (global) dan muhtamal (memiliki kemungkinan makna baik dan buruk) agar tidak memberikan sangkaan yang buruk dari pendengar.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan kepada kita dengan pengajaran yang baik agar meninggalkan lafaz-lafaz yang memiliki makna baik dan buruk.

Allah berfirman:

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ )

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan: “Rã’inã”, tetapi katakanlah: “Unzhurnã”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.
(QS.Al-Baqarah:104)

Berkata Ahli Tafsir Al-Jasshãsh rahimahullah:

(وقوله ( رَاعِنَا ) وان كان يحتمل المراعاة والانتظار، فإنه لما احتمل الهزء على النحو الذي كانت اليهود تطلقه نهوا عن إطلاقه، لما فيه من احتمال المعنى المحظور إطلاقه، ومثله موجود في اللغة)

FirmanNya: “Ra’ina” sekalipun memilki kemungkinan makna “penjagaan dan perhatian”, akan tetapi karena memiliki kemungkinan makna “celaan” seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi maka mereka (para sahabat) dilarang menggunakannya karena adanya kemungkinan makna yang terlarang penggunaannya (yaitu makna celaan). Yang seperti ini ada dalam bahasa.
📚(Ahkãmul-Qur’an:1/58)

Dan berkata Ahli Tafsir Al-Qurthubi rahimahullah:

في هذه الآية دليلان:
أحدهما: على تجنب الألفاظ المحتملة التي فيها التعريض للتنقيص والغض…

Dalam ayat ini terdapat dua dalil:
Pertama, dalil agar menjauhi lafaz-lafaz yang memiliki kemungkinan makna yang padanya bisa mengantarkan kepada perendahkan…
📚(Tafsir Al-Qurthubi:2/57)

Dari uraian tersebut hendaklah menjadi pelajaran bagi kita semua. Apalah jadinya jika agama ini diiajarkan sesuai kemauan manusia sehingga kita pun bermudah-mudahan menggunakan kata-kata “gaul” yang bermakna jelek??!!

Sungguh orang yang membantah dan mentahdzir dari kekeliruan hanyalah membantah dan mengkritik sesuai apa yang zhahir. Kata “preman” misalnya, dari Sabang sampai Merauke jika mendengar kata preman maka yang terbetik dalam pikiran mereka adalah makna negatif, karena penggunaannya dalam keseharian dalam makna positif sangatlah jarang dan hanya dipakai oleh kalangan tertentu, seperti Polisi yang tidak memakai seragam maka dikatakan dia memakai pakaian preman.

➡Dan jika memang engkau tak mampu kecuali dengan kata-kata “gaul” dalam berdakwah maka hendaklah engkau berhenti dan belajar, karena lidahmu lebih butuh untuk istrahat dan dipenjarakan karena bisa mengantarkanmu kejurang kebinasaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam. (HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa diteliti yang karenanya ia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur dan barat.”
(HR.Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu)

Sungguh indah ucapan Sahabat yang mulia Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu:

ﻭاﻟﺬﻱ ﻻ ﺇﻟﻪ ﻏﻴﺮﻩ، ﻣﺎ ﻋﻠﻰ اﻷﺭﺽ ﺷﻲء ﺃﺣﻮﺝ ﺇﻟﻰ ﻃﻮﻝ ﺳﺠﻦ ﻣﻦ ﻟﺴﺎﻥ

“Demi Allah yang tidak ada sembahan yang hak selainNya, tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang lebih butuh untuk dipenjarakan dalam waktu lama dari lisan.”
(Shahih, Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf:no.27030, dan Al-Hannad dalam Az-Zuhd:2/532)

➡Dan hendaklah sang ustadz kembali mengikuti jalannya para Salaf dalam Aqidah dan bermanhaj dalam beragama.

✅Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
(QS.At-Taubah:100)

Dan sungguh kami hanya menganjurkan kepada umat agar mengambil ilmu dari para Da’i yang mengajarkan kepada umat Aqidah yang bersih dan manhaj yang lurus dan mengikuti jalannya para Salaf. Dan mentahdzir dari pada Da’i yang mengajak kepada kesesatan.

✅Berkata Al-Imam Muhammad Ibnu Sirin rahimahullah:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
(Shahih, dikeluarkan oleh Ad-Darimi dan selainnya).

✅Dan berkata Al-Imam Malik rahimahullah:
لا ﺗﺄﺧﺬ اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﺭﺑﻌﺔ، ﻭﺧﺬ ﻣﻤﻦ ﺳﻮﻯ ﺫﻟﻚ، ﻻ ﺗﺄﺧﺬ ﻣﻦ ﺳﻔﻴﻪ ﻣﻌﻠﻦ ﺑﺎﻟﺴﻔﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺃﺭﻭﻯ اﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻻ ﺗﺄﺧﺬ ﻣﻦ ﻛﺬاﺏ ﻳﻜﺬﺏ ﻓﻲ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫا ﺟﺮﺏ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﺘﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﻜﺬﺏ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻻ ﻣﻦ ﺻﺎﺣﺐ ﻫﻮ ﻳﺪﻋﻮ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﻫﻮاﻩ، ﻭﻻ ﻣﻦ ﺷﻴﺦ ﻟﻪ ﻓﻀﻞ ﻭﻋﺒﺎﺩﺓ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻻ ﻳﻌﺮﻑ ﻣﺎ ﻳﺤﺪﺙ.
Janganlah engkau mengambil ilmu dari 4 jenis orang dan ambillah dari selain mereka:
-orang yang buruk akhlaknya yang terang-terangan dengan keburukannya sekalipun dia adalah orang yang paling cerdas,
-tukang dusta yang berdusta pada kabar manusia jika telah terbukti pada dirinya sekalipun dia tidak tertuduh berdusta atas Rasulullah ﷺ,
-Ahli Hawa (ahli bid’ah) yang mengajak kepada bid’ahnya,
-Seorang Syaikh yang memiliki keutamaan dan ibadah jika dia tidak paham apa yang dia riwayatkan (maksudnya ahli ibadah yang jahil).
(Shahih, dikeluarkan oleh Ya’qub Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wat-Tarikh:1/684)

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua.

الحمد الله رب العالمين.

🗓8 Dzul-Qa’dah 1439
✍🏻Akhukum
Muhammad Abu Muhammad Pattawe,
🕌Darul-Hadits Ma’bar-Yaman.

Iklan

About Fahruddin Abu Shafiyyah

Hanya Seorang Hamba Yang Sangat Butuh Kepada Ampunan Rabbnya

Diskusi

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Radio An-Nash Jakarta

Daftar Coretan

Iklan
%d blogger menyukai ini: